Wednesday, November 21, 2012

Satu Jam Saja

Aku menatap wajah ayumu. Matamu terpejam, bibir mungilmu yang mengatup mulai membiru, menandakan kalau waktuku tidak banyak. Kita hanya punya waktu satu jam, sayang ... dimulai dari sekarang. Jam sudah dihitung mundur, detik demi detik menguap di udara tanpa sanggup kucegah. Dalam pelukanku, kamu tertidur pulas tanpa menyadari kalau angkot yang membawa kita melewati jalan terjal yang semakin sulit untuk diarungi karena hujan lebat di luar sana. Di dalam angkot ini masih tersisa empat orang. Aku, kamu dan dua orang ibu-ibu. 

Mereka menatap aku dan kamu bergantian. Sorot mata mereka berubah-ubah, sebentar penuh belas kasihan ke arahmu kemudian penuh kutukan ke arahku. Biasanya aku akan memelototi mereka, mata merahku akan menyiratkan perintah untuk mengurusi urusan mereka dan jika tetap tidak dihiraukan, maka terpaksa kusuratkan isyarat itu melalui bentakan dan kata-kata kasar. Tapi kali ini tidak. Aku ingin memuaskan mataku menatap wajah cantikmu yang ada dalam dekapanku, berbisik penuh sayang di telingamu agar kamu tahu betapa aku mencintaimu.

Kita hanya punya waktu satu jam untuk bersama. Sekarang sudah berkurang lagi menjadi empat puluh lima menit. Kalau perkiraanku tepat, empat puluh lima menit lagi kita akan sampai ke tujuan. Ke tempat yang kuibaratkan sebagai pelabuhan dan kamu adalah nahkoda atas perahu kehidupanmu. Aku tidak berhak ikut karena orang yang wajahnya pasti sudah dipajang di dinding pos polisi bagian 'D.P.O' hanya akan menambah sulit perjalananmu.

Cukuplah badai dari luar yang akan menantang langkahmu, sayang ... jangan ada badai dari dalam juga.

Andai saja bisa kumanipulasi waktu semudah aku memanipulasi orang-orang dengan alasan bertahan hidup, aku akan meminta waktu berhenti di sini. Jangan berjalan lagi. Biarlah sisa empat puluh lima menit - ah sekarang sudah tinggal empat puluh empat menit! - tidak habis. Aku tidak ingin meminta terlalu banyak. Tidak ke masa remaja dimana kemarahanku mulai menggelegak seperti lava yang perlahan-lahan merembes naik ke permukaan bumi, sebelum kemudian meledak dan menghancurkan setiap makhluk hidup maupun mati di sekitarnya. 

Aku tidak mau kembali ke masa itu karena aku tahu tidak akan ada yang bisa diperbaiki. Aku harus tetap keluar dari rumah sejak orang-orang berseragam cokelat itu menyeret laki-laki itu keluar dan aku diseret oleh seorang perempuan bersergam sama keluar dari rumah, agar tidak lagi menyentuh pergelangan tangan ibuku sudah tak berdenyut. Aku harus tetap melarikan diri agar tidak masuk ke mulut harimau, padahal aku baru saja lepas dari mulut buaya. Aku harus tetap belajar melumpuhkan nurani karena nurani tidak bisa ditukar dengan perlengkapan untuk memperpanjang hidup. Tidak di kota bernama Jakarta yang serupa rimba beton penuh predator yang tidak hanya membunuh demi makan, tapi juga demi kesenangan. Aku harus tetap mengintimidasi, mencabik, mengerkah dan merampas atau kalau tidak maka imbuhan 'me' akan berubah menjadi 'di'.

Aku juga tidak akan memutar balik waktu agar kamu tidak pernah ada di hidupku, sayangku. Sepanjang hidupku, aku telah membuat kesalahan. Bahkan kelahiranku pun adalah kesalahan. Itu yang terus dikatakan oleh lelaki yang gemar menghantam tubuhku dan belum puas sebelum aku berlumur lebam dan darah. Itu juga yang dikatakan oleh ibu, walau ia mengatakannya sambil mencuci darahku yang bercampur dengan darahnya. Aku lahir dengan kesalahan. Setiap tindakan dan kata-kataku adalah kesalahan. Aku adalah kesalahan.

Lalu kamu datang dalam hidupku. Kamu bidadari yang turun dari khayangan, untuk pertama kali dalam hidupku aku tidak lagi membuat kesalahan. Aku sudah melakukan hal yang tepat ketika aku merengkuhmu dalam dekapanku dan membawamu pergi bersamaku. Kini kamu ada di sini, bersamaku. Tidak bisa aku ungkapkan perasaan bahagia yang ada dalam hatiku, sayangku. Kuucap nama-Nya seolah baru pertama kali aku menyebut. Kuhaturkan syukur pada-Nya atas dirimu.

Andai bisa kubalas kebaikan-Nya, aku rela menjual jiwaku karena sampai sekarang aku tidak tahu apa gunanya jiwa itu masih bercokol dalam ragaku. Sudah kutenggak racun hitam dalam bentuk gas, padat maupun cair, tapi tetap saja jiwa itu masih dengan keras kepalanya melekat. Setiap malam aku menjual jiwaku, menawarkannya pada setiap setan yang lewat, tapi tetap saja tidak ada yang mau. Apa jiwaku seburuk itu sampai setanpun tidak mau? Kalau begitu apa Ia mau membelinya?

Ah, omong apa aku ini. Ia bukanlah pedagang yang bermain jual beli. Bila kuberi sekian maka ia akan memberiku sekian. Tidak. Ia adalah ... 

Aku sudah tidak ingat lagi apa saja perumpamaan tentang diri-Nya yang diciptakan manusia untuk bisa memahami-Nya. Sebagian otakku sudah mati. 

Sayangku, tiga puluh menit sudah berlalu. Lima belas menit sisa waktu kita. Angkot yang membawa kita sudah menderu pergi setelah menurunkan kita di pinggir jalan. Ia melesat bagai kesetanan, seakan masih mengejar setoran. Padahal sekarang sudah jam sebelas malam. Mungkin ia sudah tidak sabar cepat-cepat menepi ke pangkalan dan mencuci seisi angkot luar dalam dengan air kembang. Lihat sayangku, bahkan di mata orang yang tidak kukenal pun mereka sudah tahu aku ini kesalahan. 

Aku menggendong tubuh mungilmu. Matamu membuka, menatapku. Menatap setiap rajahan yang ada di tubuhku yang tak berbaju. Andai saja masih ada waktu, aku akan menerangkan apa cerita di setiap rajahan itu. Tapi kali ini, cukuplah kamu tahu satu. Gambar malaikat dengan tulisan namamu di bawahnya : Liana. 

"Kamu lihat ini sayang? Ini aku buat untuk kamu ..." bisikku. Dua bulir air mata meluncur turun dari pipiku, ke pipimu. Kuhapus air mata itu tanpa bicara karena tenggorokanku seperti sedang dicekik orang. 

Lima, empat, tiga, dua, satu. Waktu kita sudah habis sayang. Harus kuucapkan selamat berpisah padamu sekarang. Kutatap rumah megah di hadapanku. Inilah pelabuhan tempat aku akan melepasmu sayang. Maaf tidak ada letusan senjata atau deru marching band bisa kusiapkan untukmu. Aku hanya bisa mengantar kepergianmu dengan doaku. Semoga jalan hidupmu tidak sedikitpun sama denganku. Bila harus kubayar semua kesalahanku dengan kematian di ujung belati atau timah panas, aku rela. Asal tidak dengan satu saja goresan di lahir ataupun batinmu. 

Aku melangkah gontai. Meninggalkanmu yang mulai menangis, berteriak-teriak membelah kesunyian malam. Aku bersembunyi di balik bayangan gelap malam. Seorang wanita berdaster bunga-bunga keluar dari rumah, bibirnya meneriakan nama-Nya saat melihatmu. Ia mengangkat tubuh mungilmu dan mengambil kertas yang kuselipkan di balik bebatan kain batik yang membungkus tubuhmu. Ia membaca tulisan di sana tanpa bicara, tapi aku masih hafal sekali apa isi tulisan itu. 

Tolong rawat bayi ini baik-baik, namanya Liana. 
Ibunya sudah meninggal dunia saat melahirkannya.
Ayahnya seorang preman yang mungkin sebentar lagi mati atau dipenjara.
Beritahu Liana bila ia sudah cukup besar untuk mengerti,
Bahwa tidak pernah sekalipun kami ingin menyingkirkannya,
Kami berdua sangat mencintainya

Ayah Liana

Thursday, August 23, 2012

Bintang di Mata Jelita


Miris sekali hatiku melihat keadaannya saat ini. Rambutnya kusut masai menutupi sebagian wajah tirus dengan mata cekung yang redup. Ah Jelita, tidak seharusnya kau seperti ini … dulu kau begitu cantik, dengan rambut panjang halus terurai, pipi bersemu kemerahan dan bintang yang bersinar di matamu. Dulu kau bagai bunga mawar yang merekah segar. Pesonamu memikat banyak kumbang … namun kau tidak membiarkan mereka lolos begitu saja dari semak durimu. 
Tidak sedikit orang yang iri padamu, menganggap kau memagari tubuhmu dengan duri-duri karena kau begitu sombong akan kecantikanmu. Mereka tidak tahu kalau di balik duri-durimu itu bukanlah kecantikanmu yang kau lindungi, melainkan aku. Aku yang rapuh serupa daun kering … namun kau perlakukan seperti permata yang paling berharga.
Itulah nama yang kau pilih untukku, Permata. Hampir semua orang tertawa mengejek saat tahu itu namaku. Nama itu tidak layak untuk seorang anak kurus kerempeng, berkulit cokelat kelam dan rutin sebulan sekali berobat ke puskesmas. Hanya di sampingmu aku merasa cantik dan berharga.
“Tersenyumlah, Permata …” itu yang selalu kau ucapkan setiap pagi. “Senyum adalah kunci keindahan seorang wanita.”
Kenapa kini kau begitu murung, Jelita? Tersenyumlah.
Aku baru menyadari secarik kertas yang ada di pangkuannya. Sebuah poster yang warnanya mulai pudar, tapi masih bisa kukenali tulisan dan gambarnya. Hatiku semakin miris …
“Klub Bintang Kejora Mempersembahkan … Jelita sang Primadona!”
Di bawahnya terdapat foto sang Primadona. Bintang di matanya bersinar terang menyilaukan, kedua tangannya terentang ke atas bagai sang juara, bibir merahnya yang semanis madu mengembang dalam seulas senyuman jumawa, wajahnya begitu ayu dan sangat serasi dengan gaun mewah yang ia kenakan … Jelita sang Primadona.
Kau menoleh, matamu beradu pandang denganku. Tidak ada bintang yang bersinar di sana. Tapi aku tahu bintang di matamu hanya tertutup awan, tidak lenyap. Bintang di galaksi mungkin punya batas usia, sebelum mereka hancur jadi debu yang beterbangan di ruang hampa udara … tapi tidak dengan bintang di matamu, Jelita.
Aku akan terus berusaha menyingkirkan awan di kedua mata itu. Di mata kanannya terdapat awan putih tipis bernama katarak yang rencananya akan dioperasi. Tapi aku tahu, aku bisa mendahului operasi dalam mengembalikan sinarnya. 
Kalau orang lain menganggap Jelita tidak bisa bersinar tanpa Klub Bintang Kejora yang sudah habis dibakar massa lima tahun lalu, mereka salah besar. Jelita punya sinarnya sendiri. Akan aku buat Jelita kembali bersinar sendiri. Seperti sepuluh tahun yang lalu …

Sepuluh tahun yang lalu, ketika itu aku sedang mengerjakan setumpuk PR yang harus kukerjakan untuk mengejar ketinggalan – lagi-lagi aku harus absen seminggu karena sakit. Suara gemericik air dari MCK sebelah berhenti, disusul suara pintu berderit membuka dan gumaman Jelita yang menyenandungkan lagu ‘Sirih Kuning’, kemarin ia membantuku belajar lagu itu untuk pelajaran kesenian.
Pintu depan membuka dan aku langsung menyimpan PR-ku. Aku tidak ingin melewatkan ritual yang sudah kulihat entah sudah keberapa ratus kalinya, tapi tetap saja tidak membosankan. Perlahan, aku menyibak sedikit gorden yang memisahkan ruang tidur dan ruang depan. Jeliat membuka tas berisi kosmetik, menegakkan kaca dan menatap bayangannya di cermin. Ia tersenyum pada bayangannya sendiri.
Ia selalu memulai ritual beriasnya dengan senyuman, mengenakan kunci keindahan setiap wanita seperti katanya. Tidak heran orang memanggilnya Jelita, siapa yang tidak terpesona melihat senyuman seindah itu? Terutama bintang yang selalu berbinar di kedua matanya setiap kali ia tersenyum. Bintang yang memiliki kekuatan seperti lubang hitam di luar angkasa, menarik benda-benda di sekitarnya.
Aku sudah hafal urutan ritualnya, dimulai dengan susu pembersih. Perlahan-lahan diusapkan ke pipi, kening dan dagu dengan kapas. Menurutku, Jelita sudah cukup cantik hanya dengan susu pembersih itu. Ia tidak perlu bedak, lipstik, pinsil alis atau kosmetik lainnya. Aku paling suka melihatnya setelah mencuci muka dan mengenakan susu pembersih, seperti saat ia membangunkanku setiap pagi.
Ia selalu bangun lebih awal dariku. Kemudian setelah mandi dan membersihkan wajah, ia membangunkanku, mengantarku ke MCK untuk mandi, mendandaniku, dengan bedak bayi dan minyak telon, sebelum kemudian mengantarku ke sekolah. Di jalan menuju gang depan rumah kami, aku menyadari beberapa mata yang menatap Jelita dengan hina dari ujung rambut hingga ujung kaki … kemudian bertambah jijik saat melihatku. Jelita tidak perduli, dengan dagu tegak ia berjalan penuh percaya diri, menggandeng tanganku erat-erat dan kadang menarikku pelan kalau aku mulai bersembunyi di belakang punggungnya.
“Jangan bersembunyi begitu, Permata …” ujar Jelita. “Biar semua orang melihat keindahan perhiasanku yang satu ini!”
Melihat bayanganku di etalase toko yang masih tutup saat kami lewati, terkadang aku minder. Jelita dengan segala pesonanya dan aku yang tampak bagai itik buruk rupa.
“Kamu adalah perhiasanku yang paling indah!” Jelita menatap mataku dalam-dalam. “Karena kamu adalah bukti kalau aku masih memiliki cinta di hidupku.”
Akal anak kecilku tidak bisa mencerna apa arti kata-kata Jelita saat itu. Tapi satu hal yang aku yakini, Jelita mencintaiku dan ia adalah sosok yang paling sempurna di mataku. Ketika wanita yang pernah kupanggil ‘Ibu’ meninggalkan rumah dan tidak kembali lagi, kukira ia akan langsung membawaku ke panti asuhan seperti yang dikatakan teman-temanku. Apalagi sebelum pergi, ‘Ibu’ sempat berkata kalau aku adalah kesalahan, tidak seharusnya aku lahir dan ia tidak mau melihat wajahku lagi.
Namun Jelita berkata padaku kalau ia tidak perduli kalau ada berkompi-kompi serdadu yang menyerang rumah ini, ia tidak akan pernah menyerahkanku pada siapapun. Jelas, aku jauh lebih mempercayai Jelita ketimbang sekelompok anak-anak yang bahkan sering berbohong untuk hal-hal kecil seperti tugas piket di sekolah. Jelita tidak pernah berbohong padaku.
Setiap kali hendak melepasku di gerbang sekolah, kurasakan genggaman tangan Jelita semakin erat. Jelita tahu, gedung bercat warna-warni dengan anak-anak yang bermain dengan riang di lapangan itu hampir sama menegangkannya dengan hutan rimba yang dipenuhi pemangsa. Jelita pernah mengalami penindasan kejam yang membuatnya pernah mencoba bunuh diri di sekolah dulu, sampai sekarang bekas luka di pergelangan tangan kirinya masih tampak samar-samar kalau diperhatikan dengan seksama.
“Baik-baik di sekolah, Permata …” Jelita memelukku erat-erat, aku menghirup dalam-dalam wangi tubuhnya. “Sampai nanti jam 1 siang.”
Kemudian ia membungkuk, menunjuk pipinya agar kucium. Aku mencium kedua pipinya masing-masing sekali, kadang dua kali. Teman-teman yang melihat meneriaki dan mengejekku, tapi aku tidak perduli. Aku tidak malu mencium Jelita di depan umum, walau mereka menganggap kelakuanku itu ‘seperti anak kecil’. Kalau syarat ‘menjadi remaja’ menurut mereka adalah tidak boleh mencium pipi keluarga di depan umum tapi harus mencium bibir cowok asing secara sembunyi-sembunyi di belakang sekolah, aku memilih tetap menjadi anak kecil.
Ketika aku pulang, Jelita sudah mempersiapkan makan siang untukku. Seperti sudah dikomando, perutku langsung berbunyi. Di sekolah, aku jarang merasa lapar dan paling hanya membeli minum di jam istirahat siang. Gara-gara ini juga guru di sekolah sempat menyangka aku kena gangguan perilaku makan dan memanggil Jelita ke sekolah untuk bicara 4 mata. Jelita tertawa mendengar prasangka guru-guruku itu. Ia yang tahu kalau di rumah aku menyantap habis semua makanan yang ia sajikan.
“Jangan dihiraukan!” kata Jelita. “Mereka tidak mengenal kita sama sekali. Tidak ada yang lebih mengenal aku ketimbang kamu, dan begitu juga sebaliknya!”
Jelita benar seratus persen soal itu. Hanya Jelita yang benar-benar mengenalku luar dalam. Walaupun secara fisik aku dan Jelita bagai bumi dan langit, tapi entah kenapa aku merasa aku jauh lebih mirip dengan Jelita ketimbang Ibu kandungku. Ketika Ibu kandungku pergi, aku sama sekali tidak merasa kehilangan. Di lain pihak, ketika Jelita terlambat pulang setengah jam saja, aku pasti sudah tidak bisa tidur dan menunggu di kamar depan sampai mendengar langkah kaki Jelita mendekati rumah.
“Maaf terlambat, Permata …” Jelita akan menggendongku dan memelukku erat. “Tadi ada sedikit gangguan di jalan, tapi sudah tidak apa-apa sekarang.”
Aku memeluk Jelita semakin erat. Aku tahu gangguan apa yang ia maksud. Pasti deretan laki-laki yang terpesona dengan Jelita dan menginginkan Jelita menjadi milik mereka. Aku tidak mau membagi Jelita dengan siapapun. Persetan walau laki-laki itu berkata mau menerimaku sekalian. Aku tidak mau ada orang lain di antara aku dan Jelita.
Pernah sekali hal itu terjadi, seorang lelaki yang datang hanya untuk menghisap madu Jelita kemudian pergi. Lelaki itu tidak ketahuan jejaknya, setelah menguras hampir separuh tabungan Jelita yang ia siapkan untuk membayar biaya ujian nasionalku. Jelita sempat layu, namun ia bukan tipe orang yang hanya duduk menangis dan mengasihani diri. Dengan cepat ia bangkit, mencari pinjaman kesana-kemari sampai biaya ujianku tercukupi.
“Jelita, kamu luar biasa!” kata salah seorang temannya yang tahu kejadian itu.
“Ini semua karena Permata!” kata Jelita tersenyum bahagia. “Ia adalah rantingku. Tidak perduli seberapa layunya aku, aku pasti akan bangkit kembali selama masih ada Permata.”
Kejadian itu baru sebulan yang lalu, tapi melihat betapa segarnya Jelita seakan-akan kejadian itu sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun lalu. Ah, ia sudah selesai berdandan. Kini di hadapanku berdiri sosok Jelita sang primadona Klub Bintang Kejora, glamor dan mempersona. Jelita melangkah keluar dari rumah dan mengunci pintu. Mataku menangkap benda mungil di atas meja makan tempat Jelita berias tadi. Aku mendekati meja makan dan melihat benda itu. Sebuah kartu tanda pengenal.
Bram – Klub Bintang Kejora
Aku meraih kartu itu, tergesa membuka kunci dan berlari mengejarnya.
“Bapaakk!!” teriakku.
Sosok bergaun indah itu berbalik, langkahnya tergesa mendekati rumah. “Permata, jangan keluar rumah sendiri, nduk! Bahaya! Kenapa? Kamu sakit?”
“Kartu Bapak ketinggalan, nanti Bapak tidak bisa masuk kerja …” kataku memberikan kartu itu padanya.
“Aduh, nduk … terimakasih ya! Tapi habis ini kamu jangan keluar-keluar rumah ya. Bahaya, ini sudah malam. Ayo masuk rumah …” Jelita membimbingku masuk lagi ke dalam rumah dan menyuruhku segera mengunci pintu. Ia tidak beranjak sampai ia yakin aku sudah mengunci pintu dan masuk lagi ke dalam kamar.
Aku naik ke atas tempat tidur, memejamkan mata dan mencoba tidur. Bersabar menunggu esok pagi, dimana aku bisa melihat binar cahaya Jelita yang asli.

Aku membimbing Jelita turun ke tempat tidur, ke meja rias kecil yang ada di sudut kamar. Jelita tidak berkata apa-apa. Semenjak serangan stroke yang ia alami, ia menjadi jarang bicara. Hanya sesekali saja ia memanggilku dengan suara pelat. Ia juga jadi jarang tersenyum, sebagian karena sisi kiri wajahnya lumpuh dan kalaupun sedang begitu aku tidak bisa melihat binar bintang di matanya.
Tapi aku adalah ranting bagi Jelita. Aku tidak akan membiarkannya layu berlama-lama.
Aku mendudukannya di atas meja, mengambil sisir dan menyisiri rambut panjangnya. Aku mengepang rambut panjangnya ke belakang punggung, sekarang ia tampak lebih segar dan wajahnya pun lebih jelas terlihat. Aku mengambil susu pembersih, menuangnya di atas kapas dan mulai mengusap wajah yang sudah mulai kisut itu. Perlahan-lahan kabut yang menyelimutinya mulai terhapus. Kedua pipi yang tirus itu seolah mulai bersemu merah muda lagi dan keriput-keriput di wajahnya terasa memudar.
“Lihat, Bapak …” aku menempelkan pipiku ke pipinya, menatap ke arah cermin dengan haru. “Itu cahaya aslinya Jelita. Cantik sekali, Pak … paling cantik diantara yang cantik …”
Dua bulir air mata turun menelusuri pipi tirus itu. Tangan kanannya yang masih kuat bergerak, membelai-belai pipiku.
“Permataku.” Ujarnya dengan suara yang pelat, tapi sarat dengan kasih sayang. “Rantingku.”
Aku memeluk bahu kurusnya dan mencium pipinya. Pandangan mataku sendiri sudah kabur oleh air mata, tapi aku masih bisa melihat dengan jelas kelip bintang di mata Jelita. Bersinar jauh lebih terang dari yang sudah-sudah. 

Saturday, July 28, 2012

Diary Anonim

*this story based on a true event, dengan nama, kejadian dan tempat yang sudah kuganti ;) 

Hari itu sesi jaga malamku di stase forensik lumayan sibuk. Aku baru saja menyelesaikan visum ketika HP-ku berbunyi. Ada pesan yang masuk di blackberry messenger, mengatakan ada pemeriksaan luar di ruang post mortem. Huff ... padahal saat meminta keterangan dari korban pemukulan yang adalah seorang anak perempuan berusia tiga belas tahun itu, aku sudah cukup memakan banyak energi. Cerita anak itu agak berbelit-belit dan beberapa kali ia bungkam. Aku membujuknya berkali-kali, memintanya untuk bercerita dan tidak usah takut, karena banyak orang yang melindunginya di sini. Akhirnya ia mau bercerita, kalau pacarnya lah yang memukulinya saat mereka bertengkar.

Miris sekali hatiku mendengarnya ... dia anak  perempuan yang masih berusia13 tahun ... aku ingat betapa insecure-nya aku dulu ketika seusianya. Apalagi pelakunya berusia 18 tahun, lebih tua, lebih dipercaya oleh gadis itu ... apa yang ada di pikiran laki-laki itu ketika melayangkan tinjunya?

"Kamu itu terlalu sabar, Kay." kata Sandy, salah seorang teman jagaku. "Apalagi menghadapi kasus semacam itu. Aku sudah hilang sabar tadi, dikira kerjaan kita hanya dia apa?!"

"Ya namanya juga kasus pemukulan. Apalagi pelakunya pacar sendiri, wajarlah kalau dia shock dan masih denial ... selama ini dia sayang sama pacarnya, percaya sama dia ... pasti dia mikir lah, apa jangan-jangan dia yang salah.", kataku sambil berjalan di sebelah Sandy.

"What bullshit!!" maki Sandy. "Laki-laki yang memukul wanita itu bahkan kebagusan kalau dibilang "sampah masyarakat". By God ya, kalau sampai ada yang berani kayak gitu ke adikku atau ke orang terdekatku, aku akan membuat mereka merasakan hell on earth!"

"Ups, sabar, sabar Mas ... kita harus netral, remember? Tidak boleh memihak. Aku juga marah tadi, aku juga ingin pelakunya dihukum berat. Tapi itu sudah di luar kapasitas kita. Kita sudah melakukan apa yang kita bisa. Selebihnya, urusan penyidik ..." kataku.

Sandy menatapku, lalu nyengir. "Kamu memang calon dokter forensik yang baik."

Aku terbahak. "Amin!"

Kami sampai di ruang post mortem. Desta sedang memeriksa barang-barang si 'pasien' sementara Cathy  mencatat deskripsinya. "Nah syukurlah elo berdua dateng. Kay elo gantiin gue ya, Sandy elo bantu Cathy memeriksa pasiennya."

"Oke. Sip!"

Aku mengenakan sarung tangan dan mulai memeriksa barang-barang yang ada di samping si korban. "Meninggalnya kenapa?" tanyaku.

"Gak tau. Ditemukan di jalan. Belum ada keluarga yang bisa dihubungi." jawab Desta.

"Oh." aku melihat benda-benda yang ada. Sebuah handphone, seplastik uang dan sebuah buku notes kecil bersampul merah. Aku meraih buku itu, karena benda itu yang pertama kali menarik perhatianku. Tanganku hendak membuka halaman pertama buku itu, berharap di dalam buku itu ada nomor telfon keluarga si korban. Tapi kemudian aku teringat. AKu menoleh ke si korban ... seorang pria berusia dua puluhan yang tubuhnya kurus, mengenakan kaus hitam bertuliskan kata makian kasar, jins sobek-sobek dan sandal jepit.

"Bapak, maaf saya lihat bukunya ya. Siapa tahu ada nomer telfon yang bisa saya hubungi.", ujarku.

"Iya, Mbak'e ... buka aja!" Desta menyahut iseng. Aku nyengir.

Halaman pertama buku itu berisi lirik lagu. 'Jujur Saja' by Wonderboy ... begitu tulisannya. Ada huruf-huruf yang ditulis dengan huruf kapital, pertanda itulah bagian yang ditekankan si penulis.

JUJUR SAJA KAU ANGGAP AKU APA?
MENGAPA KAU TAK BERTERUS TERANG?
JUJUR SAJA KU RAGUKAN CINTAMU
KARENA DIRIMU TAK SEPERTI DULU

Di bawah lirik lagu itu ada tulisan : Jujur saja, kau anggap aku apa??

Dheg. Lagi-lagi aku merasa miris. Jika benar si korban (Ia masih dinamakan Mr.X, karena tidak ditemukan KTP atau tanda pengenal lain) yang menulisnya ... saat menulis ini ia pasti sedang galau luar biasa karena merasa terombang-ambing dalam ketidakpastian. Aku membuka halaman berikutnya, mencoba fokus pada menemukan nomer telfon yang bisa dihubungi, tapi lagi-lagi perhatianku teralihkan pada sketsa wajah seorang perempuan berambut keriting panjang seperti ilustrasi novel-novel roman zaman dulu, di bawahnya tertulis : I love you Kirana ... 


Di halaman lain ada catatan kecil. Hari ini ada satu kebahagiaan kecil yang kamu berikan untukku, yaitu kamu membalas sms-ku. Memang singkat, tapi aku tidak berharap banyak kok. Aku tahu kamu sibuk. Aku cukup senang kamu mau membalas sms-ku. 


Aku membalik lagi halamannya. Aku akan tetap menunggu kamu, mencintai kamu ... walau aku tahu kamu tidak perduli sama aku.  


Kirana,
satu nama itu selalu terpatri di hatiku
Kirana,
nama yang sempurna, sesempurna keindahanmu
Kirana,
nama yang menjadi pengganti doaku
setiap fajar membuka hari
Kirana,
ditengah malam beku ini, 
namamu bagaikan lilin kecil yang hangatkan hatiku
Kirana,
aku percaya suatu saat nanti 
kau akan pecaya betapa aku mencintaimu
Kirana,
biarlah kukecap pahit dan hujaman nyeri ini
karena aku yakin, akulah tempatmu pulang


Lalu ada lagi tulisan yang agak cakar ayam, menandakan penulisnya sedang dilanda emosi. Kamu jahat. Kamu hancurkan hatiku. Aku tulus sayang sama kamu, melebihi cinta tunangan kamu itu. Tunangan kamu enggak perduli sama kamu. Dia sering membuat kamu menangis kan? Buka hati kamu, Kirana. Buka sedikit untuk aku. Kenapa kamu tidak pernah menganggap aku ada? Lihat aku di sini, aku tulus mencintai kamu.


Kamu bilang kamu sayang aku. Tiga kata itu kamu ucapkan pagi ini ketika aku tanya bagaimana perasaan kamu ke aku. Dengan gampangnya aku luluh ... ah Kirana, aku memang selalu lemah kalau menyangkut kamu. 


Kirana, malam ini aku sakit lagi. Mungkin besok aku sudah tidak bernyawa. Aku menulis ini dengan sisa-sisa tenaga terakhir aku. Kirana, Kirana ... kamu di mana? Aku mau melihat kamu, sekali saja sebelum aku mati. Aku mencintai kamu, Kirana .... 


"Kay! Kok sampe terpesona gitu sih?" Cathy menepuk bahuku, ia melongok ke buku notes yang masih kubaca. "Ya ampunnn ... lebay sekali!" komentarnya.

"Bapaknya masih bisa denger kata-kata kamu lho!" ujarku.

"Ups! Maaf ya Pak ..." kata Cathy. "Tapi kamu yang fokus dong Kay ... kamu kan mau nyari nomer telfon yang bisa dihubungi, remember?"


"Iya, iya ... sori ..." aku membalik-balik halaman buku itu, mengabaikan tulisan demi tulisan yang melafalkan satu nama : Kirana. Lalu akhirnya aku menemukan beberapa nomer HP, salah satunya adalah nomer HP Kirana. Setelah mendeskripsikan barang-barang korban, aku meminta ijin sejenak menyerahkan buku itu ke petugas administrasi untuk menghubungi nomor telfon itu.

Pemeriksaan luar selesai, dan kami beristirahat di ruang jaga.

Aku memutuskan untuk tidur sejenak, karena tidak tahu apa yang akan datang nanti malam. Kupejamkan mata dan berusaha tidur. Aku teringat dua kasus yang aku hadapi hari ini ... yang satu dikhianati kepercayaannya oleh orang yang ia cintai, yang satu setengah mati mencintai (atau bisa dikatakan ... terobsesi?) ... tanpa bisa kucegah, imajinasiku melayang membayangkan apa jadinya kalau hidup mereka berdua adalah sebuah film romantic comedy. 


Si gadis bertemu dengan si Mr.X ... mungkin saat ia berlari menghindari kejaran pacarnya yang mau memukulinya? Mr.X menghajar pacar si gadis dengan maksud melindungi, kemudian mereka berkenalan, kemudian mereka saling curhat, kemudian mereka jatuh cinta, kemudian mereka melupakan yang menyia-nyiakan mereka dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya? Kenapa tidak bisa seperti itu? Itu ending yang ideal bukan? Menurutku sih ... 


Oh well ...lagi-lagi aku hanya bisa menemukan 'itulah hidup' - whatever that means - sebagai jawaban atas pertanyaanku. Semua orang ingin bahagia, ingin mencintai dan dicintai. Tapi dalam hidup, seringkali tidak bisa sesederhana itu. Haish ... memikirkannya saja sudah pusing. Lebih baik aku tidur dulu, mudah-mudahan nanti malam jagaku aman.

Aku tidak tahu kapan aku terlelap. Tahu-tahu saja aku merasa ada yang berdiri di depanku. Aku memicingkan mata, melihat sosok samar-samar yang kemudian semakin jelas. Seorang pria berambut emo, mengenakan baju hitam bertuliskan makian, jins sobek-sobek dan sandal jepit, tengah menatapku.  Ini kan ... Mr.X yang tadi!! Seruku dalam hati, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Ketika wajahnya semakin jelas, aku melihat sudut-sudut bibirnya terangkat sedikit dan ia mengangguk padaku, sebelum berjalan keluar kamar jaga.

"Kayla ..."

Ada suara laki-laki memanggil namaku. "Kayla? Kayla?" aku merasa ada yang mengguncang bahuku dan aku bangun gelagapan.

Desta nyengir melihatku. "Sori elo udah tidur yah? Barusan ada panggilan ke IGD, ada visum."

"Oh? Mmm ... okeh okeh, bentar ..."

Aku meraih HP yang tadi sedang di- charge, memastikan notesku ada di kantong baju jaga, sebelum mengikuti Desta dan teman-teman lain ke luar kamar jaga. Sepertinya, masih banyak cerita yang akan aku dengar malam ini ...

Saturday, November 12, 2011

Not A Fairy Tale

Terinspirasi lagu 'White Horse' - Taylor Swift

Ini sudah ketiga kalinya dalam dua minggu ini ia datang ke puskesmas untuk berobat. Seorang pria yang berusia dua puluh sembilan tahun dengan wajah sangat manis, tubuh tinggi semampai dan tutur bahasa yang halus. Mungkin karena ia seorang guru Kesenian di SMA yang terletak sekitar seratus meter dari Puskesmas ini.

Namanya Arif. Ia pasien pertamaku ketika aku sedang menjalani kepaniteraan klinik ilmu kesehatan masyarakat di puskesmas. Ia datang dengan keluhan macam-macam, sakit maag, sesak nafas dan kepala yang berdenyut-denyut, tetapi aku tidak menemukan kelainan yang berarti saat aku memeriksanya. Aku menyangka keluhan yang ia rasakan itu berhubungan dengan pikiran, jadi aku bertanya hati-hati.

"Apa jangan-jangan karena banyak pikiran, Pak Arif?"

Ia terdiam sejenak, wajah manisnya berubah keruh. Tebakanku tepat. Tapi aku tidak tahu itu adalah keuntungan atau bukan, karena selama sepuluh menit ke depan ia menceritakan padaku apa yang menjadi beban pikirannya. Istrinya, yang tidak tahu dan tidak mau tahu mengenai keadaan dirinya. Istrinya manja, malas mengurus rumah dan judes terhadap anak semata wayang mereka. Istrinya juga selalu mengeluh tentang kecilnya gaji yang Arif terima sebagai guru dan mengomel kenapa Arif tidak mau bekerja saja di perusahaan mertua yang lebih menjanjikan.

Aku kebingungan sekaligus kesal. Hari itu pas hari pertama 'tamu bulanan'-ku datang, udara di luar puskesmas panas setengah mati dan itu ikut memicu emosiku. Sabar Eris, kamu dokter muda di sini ... aku mengucapkan itu berulangkali dalam hati. Padahal aslinya aku mau berkata "Pak! Saya ini baru dua puluh tiga tahun, dan terakhir kali saya pacaran itu umur enam belas tahun, gimana saya mau mengerti masalah Bapak?!"

Di depan Arif aku masih bisa tersenyum dan mengangguk. Hanya itu yang aku lakukan sampai akhirnya ia selesai bicara. Aku menyarankan agar ia menjaga kesehatan dan tidak terlalu lelah, juga memberi resep vitamin. Ia tidak langsung pergi setelah menerima kertas resep, ia menatapku dalam-dalam dengan sepasang mata beningnya sampai aku jengah sendiri, kemudian tersenyum.

"Terimakasih dokter Eris, saya merasa lebih baik sekarang. Selama ini dokter-dokter lain tidak ada yang mau mendengarkan saya, mereka hanya memberi resep obat saja ... saya senang masih ada orang seperti dokter."

Pipiku memerah, aku merasa bahagia karena bisa sedikit mengobati sisi psikologis pasienku. Semangatku untuk melanjutkan kepaniteraan klinik sampai nanti mendapat gelar dokter pun semakin besar. Tapi kemudian aku mulai resah ketika aku tidak juga bisa mengenyahkan wajah manis itu dari pikiranku.

Aku mulai sering melihatnya, kadang pagi waktu aku memarkir mobilku di depan puskesmas, kadang siang hari ketika aku pulang.

"Selamat pagi, Bu Dokter! Baru datang?"

"Selamat siang, Bu Dokter! Pulang?"

Awalnya hanya dua kalimat itu yang rutin ia katakan padaku setiap kali bertemu. Aku hanya mengangguk, lalu membalas basa-basi. "Iya Pak Guru. Bagaimana? Sehat-sehat?"

Suatu kali motornya berhenti dan ia menghampiriku, memberiku sebuah buku yang katanya ia pinjam dari perpustakaan dekat rumah. Buku karya pengarang favoritku, Mira W. ia meminjamkannya padaku karena pengarang buku itu adalah dokter. Aku sudah membaca buku 'Cinta Cuma Sepenggal Dusta' ketika aku SMA dulu dan kami pun berdiskusi soal buku itu sambil duduk-duduk di kantin depan puskesmas.

"Inilah yang saya perlukan, dok ..." kata Arif. "Teman diskusi, yang bisa saya ajak bertukar pikiran mengenai kesukaan saya pada sastra dan seni. Istri saya tidak pernah mau tahu masalah begini, ia hanya suka sinetron dan gosip. Heran kenapa suka sekali mengurusi rumah tangga orang yang bahkan tidak pernah kita temui?"

"Orang kan beda-beda Pak!" aku mulai merasa tidak nyaman.

"Coba saya ketemu dokter lebih awal." ujarnya seraya menatapku selama beberapa detik, lalu menunduk malu-malu. Kemudian ia minta ijin kembali ke sekolah, karena masih ada kegiatan mengajar.

"Saya kira sudah pulang tadi. Maaf saya jadi membuat Pak Guru terlambat!" kataku gugup.

"Tidak apa-apa." ujarnya sambil menstater motornya. "Saya ke sini hanya mau menemui dokter saja kok."

Dan ia pun berlalu. Meninggalkanku yang tertegun bengong di sana. Selama beberapa detik semua terasa bagai kisah cinta Jane Eyre dan Mr. Rochester, tapi kesadaran memalu kepalaku keras, menghancurkan khayalan-khayalanku dan meninggalkanku dalam rasa takut. Apa-apaan aku ini? Duduk-duduk berdua mengobrol dengan suami orang ... bagaimana kalau ada petugas puskesmas yang melihat? Aku ke sini membawa nama fakultas juga!

Aku berusaha menghindarinya, tapi aku tidak bisa mencegahnya semakin sering datang ke Puskesmas untuk berobat. Ada-ada saja keluhannya, sakit perut, pusing, gatal-gatal... tapi hanya selama 2 menit saja ia mengeluh demikian, selanjutnya selalu tentang istrinya. Ia berkata sudah tidak tahan lagi, semakin stress di rumah dan hanya dengan mengobrol denganku ia merasa lega.

Aku akan berkata jujur, ada rasa senang saat aku mengobrol dengannya. Aku merasa dihargai dan dibutuhkan. Arif sangat berbeda dari orang yang selama ini kukenal. Ia cerdas dan berwawasan luas, tapi tidak kemudian menjadi sombong seperti beberapa orang yang aku tahu. Tutur bahasanya halus dan ia juga menghargai pendapat orang lain. Dan kadang aku berpikir ... apa yang terjadi kalau aku bertemu dengannya ketika kami sama-sama single? Bagaimana kalau aku berada dalam posisi Nindya - bekas murid yang sekarang menjadi istrinya.

Tapi aku tetap tidak bisa membayangkan akhir yang membahagiakan, bahkan dalam khayalanku. Sulit membayangkan diriku menggantikan posisi Nindya dan berperan sebagai ibu-ibu ideal di film, penuh senyum mengurus rumah, memasak, mengantarkan bekal ke sekolah untuk suami, menunggu suami pulang sambil bermain dengan anak-anak ... selalu ada yang terasa salah.

Karena ini bukan drama, dimana jika ada bagian yang tidak ter-shooting maka artinya bagian itu tidak penting. Aku belum pernah bertemu dengan Nindya dan anaknya, tapi mereka tetap keluarga Arif. Ini bukan cerita dongeng, dimana kalau aku sebagai tokoh utama akan selalu dibela oleh nasib dan mendapatkan akhir yang membahagiakan. Ini kehidupan nyata, bukan fantasi. Konsekuensi dari setiap tindakan tidak akan pernah bisa diduga dan dihindari. Kemungkinan terburuk masih mungkin terjadi.

Hari itu setelah kegiatan puskemas selesai, aku mengemasi alat-alat periksa di poliklinik yang sudah sepi. Ketika aku baru saja hendak pergi ke luar, aku tersentak melihat Arif ada di sana. Tersenyum manis, tapi aku tahu ia sama resahnya denganku karena berulangkali ia menoleh kesana-kemari memastikan tidak ada yang melihat.

"Ada apa Pak Guru?" tanyaku tanpa bisa menutupi getaran di suaraku.

"Enggak Bu Dokter, saya hanya mau ngasih ini ..." ia memberiku secarik kertas bertuliskan angka-angka. "Nomor HP saya, kalau nanti dokter perlu teman bicara atau apa!"

"Pak Guru, terimakasih sebelumnya atas perhatian Bapak tapi sebaiknya tidak!" tahu-tahu saja kalimat itu meluncur keluar dari bibirku.

"Kenapa Eris?" ujarnya, mengucapkan namaku untuk pertama kalinya. Hatiku semakin tidak karuan, tapi aku berusaha tetap menatap matanya. "Aku hanya mau ngobrol, diskusi sama kamu. Tidak lebih."

Aku menggeleng. "Rasanya tetap salah. Kamu sudah punya Nindya, Arif!"

"Tapi buat aku rasanya benar." Arif bersikeras. "Semua yang aku lakukan kamu, rasanya benar! Justru aku merasa serbasalah kalau sama Nindya."

"Kalau begitu kenapa kamu harus sembunyi-sembunyi seperti ini? Datang waktu kamu tahu sudah tidak ada orang di poli, tergesa-gesa takut ketahuan dan memberi nomer HP?"

Arif terdiam mendengar kata-kataku, kemudian menundukkan kepalanya. Aku tidak melepaskan pandanganku darinya ... seharusnya inilah saat dimana aku menangis, di sinetron-sinetron selalu begitu kan? Tapi tidak. Hatiku terasa sakit, tapi mataku tetap kering.

"Aku merasa bahagia di samping kamu..." lirih suara Arif. "Kamu ramah, kamu perhatian, kamu cerdas dan aku merasa kamu sangat mengerti aku. Tapi sepertinya aku salah ya?"

"Rif, kita hanya bertemu seminggu dua sampai tiga kali, mengobrol selama setengah jam... tidak adil kalau kamu membandingkan aku sama Nindya yang sudah bersama-sama dengan kamu selama enam tahun." kataku. "Kalau kita memutuskan menjalani hidup sama-sama, semakin kita mengenal pasangan kita pasti semakin banyak hal-hal baru yang kita ketahui tentang mereka. Kalau kita terus menghindar dan mencari yang lain setiap kali ada yang tidak berkenan, mau sampai kapan?"

Arif terdiam lagi, kemudian ia menatapku. "Lalu kita harus bagaimana?"

"Aku yakin, kamu lebih tau apa yang harus kamu lakukan."

Arif menjatuhkan kertas berisi nomor HP-nya ke lantai, lalu berbalik dan melangkah pergi dari sana. Langkahnya gontai dan ia tidak menoleh sama sekali. Ia berjalan ke luar, samar-samar aku mendengar suara motor distater. Ah, rupanya ia sengaja memarkir motornya di luar puskesmas supaya tidak menarik perhatian.

Aku mengambil kertas nomor HP Arif dari lantai, menyobek-nyobek lalu membuangnya di tempat sampah. Kemudian sambil berusaha menenangkan diri, aku keluar dari poliklinik menuju mobil. Masih ada sedikit rasa tidak enak ketika aku melewati kantin tempat pertama kali Arif mengutarakan perasaan hatinya padaku dulu, apa yang aku jalani ini bisa dinamakan ... perselingkuhan?

Setidaknya aku sudah mengakhirinya sekarang.


Catatan :
Empat minggu kemudian aku mengakhiri masa kepaniteraan klinik ilmu kesehatan masyarakat. Aku tidak bertemu lagi dengan Arif, tapi di hari terakhir aku sempat melihatnya ketika aku sedang menunggu kereta lewat di lintasan kereta api. Ia sedang duduk di depan klinik bidan bersama seorang wanita yang aku yakini adalah Nindya dan seorang anak kecil yang aku yakini adalah anak mereka. Perut Nindya agak membuncit di bawah daster batik yang ia kenakan. Nindya mengomel sambil mengipas-ngipas wajahnya, tapi dari wajahnya aku tahu sebenarnya ia hanya mau bermanja-manja pada suaminya. Arif tertawa lalu membukakan sebotol air mineral untuk istrinya, sementara anak mereka mengibar-ngibarkan sebuah pamflet di depan wajah ibunya. Aku tidak bisa lama-lama menatap mereka, karena saat itu pintu lintasan kereta mulai dibuka dan angkot di belakangku mulai mengklakson dengan tidak sabar. Itulah kali terakhir aku melihat Arif.

Cause I'm not your princess, this ain't a fairytale
I'm gonna find someone someday who might actually treat me well
This is a big world, that was a small town
There in my rearview mirror disappearing now

White Horse-Taylor Swift

Thursday, November 10, 2011

Cerita Si Seratus

Akhirnya aku menulis juga di blog ini :) blog ini nantinya akan menjadi blog khusus cerpenku. Aku dapat cerita ini dari salah seorang dokter pembimbingku di stase Obgyn RS Polri, dr. Eka yang minta aku menulis cerita 'Andai Aku Adalah Gundu' tahu-tahu aku terpikir cerita ini. Hehehe ... minta komentarnya ya, thank you :)


Cerita Si Seratus

Aku adalah salah satu dari seratus gundu yang ada di dalam stoples kaca berwarna bening. Setiap hari kerjaku hanya berdiam diri, tapi kadang pemilikku menyuntakkan seluruh isi stoples ke luar. Ia tidak kemudian mengadu kami dengan gundu lain kemudian memberikan salah satu dari kami sebagai hadiah untuk si pemenang. Ia mengelap tubuh kami satu demi satu dengan kertas tisu dan cairan pembersih kaca, lalu menaruh kami kembali di dalam kantong beludru kuning dalam keadaan bersih berkilat.

Entah sudah berapa lama sejak aku berpindah tangan. Tadinya aku adalah milik seorang anak bernama ‘Abang’. Dulu aku bagaikan prajurit perang baginya. Aku beserta sepuluh gundu lain, setiap hari kami maju perang melawan gundu-gundu milik lawan Abang. Setiap kali tubuh kami mengenai gundu milik lawan Abang, Abang bersorak gembira dan kemudian gundu itu bergabung dengan pasukan kami. Benar-benar mirip medan perang, hanya saja tidak ada prajurit yang bisa memilih untuk ‘Harakiri’ ala prajurit negeri matahari terbit. Kami berpindah kubu atas kehendak pemimpin pasukan, tidak ada tawar-menawar. Jumlah kami terus bertambah, kadang berkurang tapi kemudian bertambah lebih banyak lagi.

Kemudian tiba masa dimana kami tinggal di stoples dan hanya berdiam diri saja di dalam sana. Tepat ketika jumlah kami genap seratus pasukan gundu. Abang tidak lagi menyuruh kami berperang, dari balik kaca aku sering melihat Abang menghadap sebuah benda berbentuk kotak yang memancarkan cahaya aneka warna. Kotak itu bisa membuat Abang tertawa, marah dan menangis. Abang bisa duduk di depan kotak itu berjam-jam, sampai seorang wanita yang dipanggil ‘Ibu’ oleh Abang menarik telinganya. Kadang kotak itu dibawa keluar oleh Ibu, kalau sudah begitu Abang marah-marah dan mengacak-acak kamarnya. Kami tetap diam di sudut lemari buku Abang, tidak diperdulikan.

“Bagaimana ini? Kita sudah tidak pernah lagi berperang melawan kubu lain!” salah satu dari kami berkata jengkel. Dia adalah gundu berwarna biru telur asin, dulu Abang menyebutnya ‘gundu keberuntungan’ yang selalu berhasil membawa prajurit baru ke markas kami.

“Kita sudah digantikan oleh mereka!” kata gundu bermotif jingga. Ia yang paling agresif, karena sudah pernah berpindah tangan berkali-kali sebelum kemudian bertahan di markas kami. “Benda bernama ‘televisi’ dan ‘game’ itu. Jahat sekali mereka! Mereka bahkan meniru kita, aku pernah melihat mereka membuat ilusi di mata Abang, meniru cara kita berperang sehingga Abang percaya kalau ia sedang bermain dengan kita! Padahal, puih! Yang Abang lakukan hanya duduk diam saja di atas karpet serupa agar-agar raksasa!”

“Hey, kenapa kamu diam saja dari tadi?! Kamu tidak kesal dengan semua ini?!” seru gundu berwarna hitam.

“Terang saja. Dia kan pesolek, kerjanya hanya duduk manis di dasar stoples! Dia dulu langsung lari terbirit-birit ketika aku menyerangnya, sama sekali tidak mau mencoba bertahan. Apa yang ia tahu soal perang?” cemooh gundu berwarna jingga.

Aku tidak menjawab, karena saat itu aku sedang beradu pandang dengan seorang anak perempuan kecil bermata serupa tubuhku. Anak itu bernama ‘Adik’, kadang ia masuk ke kamar Abang dan hanya duduk diam saja memandangi kami berjam-jam. Seringkali Abang marah-marah dan menyuruhnya keluar, padahal ia tidak melakukan apa-apa kecuali memandangi kami. Aku tahu aku tidak boleh gede rasa, karena ada seratus dari kami di dalam stoples ... tapi aku rasa ia tertarik padaku. Ia menatapku lekat-lekat, sesekali menyentuh bagian luar stoples dengan jari mungilnya.

“Adik, kamu ngapain sih?” Abang menghampiri Adik. “Kan Abang sudah bilang jangan masuk ke sini! Nanti kalau kamu kenapa-kenapa Abang yang dimarahi, tau?!”

Adik tidak menjawab. Abang kemudian meraih stoples kami. Seluruh gundu bersorak gembira, menyangka kami akan pergi berperang lagi. Bunyi ‘klik klik klik’ nyaring terdengar, seperti prajurit yang membentur-benturkan tombak mereka ke lantai kalau sedang bersemangat. Akhirnya hari pertempuran ini tiba juga!

Tapi kemudian bunyi itu meredup, ketika Adik tidak menyuruh kami berperang seperti Abang. Adik membuka stoples, mengeluarkan kami satu demi satu, menjejerkan kami di atas hamparan empuk berwarna merah dan bukan di atas tanah berpasir seperti dulu. Mulut Adik menggumamkan ‘satu dua tiga’ sampai ‘seratus’. Aku adalah gundu nomer seratus. Adik memandangiku cukup lama, serius sekali seperti seorang peneliti, kemudian ia mengambil semacam kain basah, mengelap tubuhku sampai berkilau dan wangi. Adik mengamati keadaanku, tersenyum bahagia sebelum memasukkanku lagi ke dalam stoples. Begitu terus, sampai seratus gundu berkumpul lagi di dalam stoples dalam keadaan berkilau dan wangi.

Seluruh gundu kembali bergumam kecewa, khususnya si gundu jingga karena tadi ia yang paling bersemangat maju perang. Aku diam di dasar stoples, menyimpan rasa bahagiaku. Baru kali ini aku dianggap begitu berharga oleh seseorang ... dulu ketika aku masih bersama Abang, Abang menganggapku tidak cukup layak maju perang. Aku tahu karena pernah sekali ketika Abang tidak sengaja mengambilku dari dalam stoples, ia berdecak kesal dan melemparkanku lagi ke dalam stoples.

“Yang itu enggak mantap. Dulu aku gampang banget dapetinnya.” Kata Abang. Gundu-gundu yang lain tertawa mencemoohku, sejak saat itu aku diletakkan di dalam stoples dan tidak pernah maju perang lagi.

Sekarang semua gundu bernasib sama sepertiku. Setiap hari Adik menjejerkan kami, menghitung jumlah kami, mengelap tubuh kami satu-persatu sebelum memasukkan kami ke dalam stoples. Tiga kali sehari, rutin, sampai aku bisa memperkirakan kapan waktunya.
Gundu yang lain tidak lagi marah-marah. Kami sudah pasrah dengan nasib kami sebagai ‘pajangan’. Aku tetap tidak bicara apa-apa, tapi dalam hati aku merasa sedikit gembira. Aku selalu menjadi yang paling terakhir dikeluarkan, paling lama dipandangi, paling teliti dibersihkan dan paling pertama dimasukkan ke dalam stoples. Aku merasa istimewa.

Aku tidak sekedar ‘gede rasa’ di mata Adik aku memang istimewa. Setiap kali Adik ketakutan, aku yang selalu ia cari di dalam stoples dan kemudian ia genggam erat-erat. Aku bisa mendengar suara denyut nadi Adik, yang tadinya cepat kemudian melambat. Hanya dengan menggenggamku atau memutar-mutar tubuhku, Adik bisa tetap tenang sementara Ibu dan Ayah saling berteriak satu sama lain di luar kamar.

“Ini semua gara-gara kamu!” kata Abang suatu kali. “Kenapa kamu tidak bisa normal seperti anak-anak lain? Aku benci kamu. Bikin malu keluarga.”

Kadang Adik membawaku ke luar, tapi bukan untuk berperang. Bagi Adik, aku menjadi semacam jimat keberuntungan. Samar-samar aku mendengar Adik sering diteriaki ‘autis’ dan ‘idiot’, kalau sudah begitu seperti macan betina yang terluka Ibu akan balik meneriaki orang-orang itu. Adik tidak bereaksi, tidak ketika Ibu menciumi keningnya berulangkali sambil menangis dan berkata kalau Ibu tetap mencintainya apapun yang terjadi, juga nanti kalau Ayah jadi menceraikan Ibu dan membawa pergi Abang. Ibu akan tetap mencintai Adik.

Aku rasa itu yang membuatku bisa dekat dengan Adik. Kami saling membutuhkan satu sama lain. Sama seperti Adik yang tidak punya teman, aku juga tidak dianggap oleh gundu yang lain karena aku lemah dalam berperang. Aku tidak bisa bicara atau mengeluarkan cahaya-cahaya seperti ‘televisi’ dan ‘game’ milik Abang, aku hanya bisa berdiam diri dan tampak secemerlang mungkin untuk Adik.

Bagi Adik, aku bisa memberinya rasa aman, membuatnya merasa terlindungi dari dunia luar yang sering membuatnya takut. Kadang aku heran ... dari seratus gundu di dalam stoples, kenapa aku? Seperti apa diriku di mata Adik? Sampai sekarang, ketika Adik semakin besar dan semakin mirip dengan Ibu aku tetap tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Mungkin ... karena Adik mirip Ibu, yang juga bisa mencintai Adik tanpa syarat apa-apa.

Friday, January 7, 2011

Tentang Rasa ...

Aku berlari sekuatku menaiki tangga itu
Aku merasa ia ada di sana, di hadapanku
Ingin sekali aku menyusul langkahnya
Namun ia bagai bersayap
Kepakannya keras
Kecepatannya jauh melampaui tapak kakiku yang letih
Kadang aku terhenti ditengah-tengah anak tangga
Yang seolah tak berujung itu
Tapi dengan keras kepala aku kembali berjalan lagi
Karena aku yakin beberapa langkah lagi aku akan menggapainya
Aku hanya ingin menepuk bahunya
Agar ia berbalik dan tersenyum padaku
Itu saja
Aku ingin memanggil namanya
Sayang nafasku tidak cukup untuk mengucapkan sepatah katapun
Tiba-tiba saja di suatu bagian yang kuyakini sebagai puncak tangga ia berbalik
Aku tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya
Karena di belakangnya cahaya matahari bersinar terang
Namun aku yakin, itu dia
Ia melambaikan tangannya di depan dada
Seolah berkata 'jangan menyusulku'
Kemudian ia berbalik dan kini aku bisa melihat dengan jelas
Di punggungnya ada sepasang sayap raksasa keperakan
Hembusan angin menerpa wajahku saat sayapnya mengepak
Aku kembali menaiki anak tangga itu namun langkahku terhenti di puncak tangga
Di hadapanku terhampar langit tak berbatas
Namun ... tidak ada dia
Aku hanya terdiam di sana,
Sementara air mata meleleh membasahi wajahku
Dadaku sesak dan kedua kakiku terasa begitu letih
Karena sudah entah berapa lama aku mengejar sesuatu yang semu
Sampai aku merasakan ada yang menyentuh bahuku
Aku menoleh dan aku lihat dia, adikku ...
Di belakangnya muncul wajah-wajah yang sangat kukenal
Dan mereka semua tersenyum padaku
Adikku mengulurkan tangannya padaku,
Tersenyum tanpa sedikitpun kesan mengejek kebodohanku
Ia hanya berkata
'Sudah siap turun?'

Friday, December 31, 2010

Cerita Dari Tahun Nol

Namaku Luna, usiaku enam belas tahun dalam perhitungan tahun masehi. Jujur saja agak aneh rasanya menggunakan perhitungan tahun masehi saat ini. Banyak orang yang mulai protes tentang cara perhitungan hari, bulan dan tahun, mengingat pergerakan planet saat ini sangat berbeda dibandingkan dulu. Walaupun kami masih menggunakan aturan 1 hari 24 jam, tapi sekarang kami sudah tidak bisa membedakan siang dan malam.

Laboratorium pusat yang menjadi patokan penuh waktu kami, mereka yang menentukan kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya beristirahat melalui siaran di televisi.
Dulu sempat ada beberapa kalangan yang protes, tapi toh mereka tidak bisa memberikan solusi yang tepat tentang bagaimana cara menghitung waktu, jadi untuk sementara ini kami masih menggunakan cara yang ditentukan oleh laboratorium pusat.

Aku akan menceritakan sedikit tentang masa sekarang ini. Dari yang aku dengar, dulu di masa ketika Mamaku masih seusiaku, terjadi bencana besar di bumi. Alam yang sudah tidak tahan lagi terus-menerus disiksa oleh manusia melawan balik dan manusia pun tidak berdaya melawan kemurkaannya. Apa yang ada di atas permukaan laut habis tanpa sisa.

Segelintir manusia yang bisa bertahan hidup terpaksa hidup dalam tempat-tempat perlindungan yang sebelumnya telah mereka bangun. Hanya manusia yang membangun tempat perlindungan dalam air saja yang bisa bertahan hidup hingga sekarang, karena yang berada di atas tanah ikut hangus terkena amukan cahaya matahari yang sudah tidak terkendali sejak lapisan ozon tercabik habis. Kini manusia yang tinggal dalam tempat perlindungan di bawah air berusaha menemukan cara untuk tetap hidup dan syukur-syukur bisa mengembalikan sekian persen kualitas hidup mereka seperti dulu.
Hal itu tidak mudah, karena apapun yang berada di atas tanah kini sudah hancur lebur. Sampai saat ini, tidak mungkin kami mencapai kedalaman kurang dari seribu meter dari permukaan laut tanpa terpanggang panasnya sinar matahari. Masa ini dinamakan tahun nol oleh para ilmuwan, karena saat ini manusia dikembalikan lagi ke titik nol dimana kami harus memulai segalanya dari awal lagi.

Aku termasuk yang beruntung karena ketika aku lahir, peradaban sudah mulai stabil dan tidak sekacau dulu. Salah satu langkah besar yang berhasil dicapai adalah, para ilmuwan sudah mulai menyetujui penggunaan makanan dan minuman sintetis untuk kelangsungan hidup kami – yah, mereka tidak punya banyak pilihan juga, karena sedikit sekali hewan dan tumbuhan yang masih bisa bertahan hidup di laboratorium khusus mereka.

Sekarang buah-buahan, sayur, telur, daging dan susu sudah mulai dijual lagi walaupun hanya tersedia di toko-toko khusus. Keluarga pemilik perusahaan udara bersih yang menjadi sponsor penjualannya dan mereka menggelar gala dinner untuk meresmikannya. Aku melihat liputannya di televisi, benar-benar luar biasa. Mereka makan sayur dan buah yang tampak segar, minum susu murni dari gelas-gelas kristal ... entah berapa trilyun uang yang mereka keluarkan untuk makanan mewah seperti itu.

Aku sendiri hanya pernah minum susu murni di acara pernikahan salah seorang teman Mama. Aku hanya boleh minum secicip saja karena bagaimanapun juga tubuhku sudah terbiasa dengan bahan-bahan sintetik sejak lahir, takutnya aku bakal sakit kalau terpapar makanan dan minuman murni dalam jumlah besar. Aku tahu kenapa sebotol susu murni harganya bisa sampai ratusan ribu ... rasanya sangat lezat dan tidak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Sekarang saja mulutku sudah berair mengingat-ingat rasa gurih dan manisnya.

Aku iri mendengar cerita orang-orang dewasa yang sempat merasakan kemewahan hidup sebelum tahun nol. Katanya, mereka bisa menikmati makanan-makanan mewah itu setiap hari (sampai bosan!) dan mereka juga tidak pernah khawatir jatuh sakit. Bahkan katanya, mereka bisa memakan daging sapi dan ayam! Bayangkan! Padahal sekarang ini hewan-hewan itu termasuk hewan-hewan yang dilindungi dan dijaga secara ketat di laboratorium karena tidak bisa hidup di lingkungan sembarangan.

Aku termasuk pengagum makhluk hidup. Sejak film animasi ‘Life Before Zero’ mulai booming, aku mulai tahu soal hewan-hewan unik di zaman sebelum tahun nol. Anjing, kucing, tikus, cicak ... film itu luar biasa sekali! Sebelumnya aku tidak bisa membayangkan melihat hewan-hewan itu dalam keadaan hidup, bukan sekedar foto di buku ensiklopedia. Aku bisa menonton film itu setiap hari dan tidak pernah bosan. Kadang aku suka berpura-pura kalau aku hidup di zaman itu, ketika anjing dan kucing liar berkeliaran, cicak merembet di dinding rumah dan tikus mengintip dari sela-sela dinding.

Sekarang di tempatku hidup, sudah tidak ada sama sekali hewan atau serangga yang bisa bertahan hidup di luar laboratorium. Walaupun aku tinggal di dasar laut, tapi aku tidak pernah melihat makhluk bernama ‘ikan’ yang dulu katanya hidup di dalam air. Kalau aku menyibakkan gorden jendela rumah, sejauh mata memandang hanya terlihat air yang berwarna biru suram, pasir kelabu, gedung-gedung bawah air yang kusam, dan sesekali ada kapal selam bermotif tentara yang lewat.

Beberapa orang dewasa yang aku kenal sering menyindir tentang betapa beruntungnya anak-anak muda sekarang ini, karena selama beberapa tahun setelah bencana besar terjadi hanya para ilmuwan yang berhak menggunakan kapal selam itu. Sempat ada suatu masa dimana para manusia betul-betul stuck di rumah bawah air mereka tanpa bisa kemana-mana. Masa itu dinamakan ‘masa kegelapan’, banyak manusia yang menjadi gila lalu bunuh diri atau mencelakakan teman mereka yang lain. Para ilmuwan sempat kewalahan menangani masalah itu, karena saat itu mereka masih setengah mati memikirkan cara bertahan hidup dengan makanan dan minuman sintetis. Beberapa ilmuwan stres, jatuh sakit dan ada yang meninggal ketika mereka memaksakan diri untuk membuat puluhan kapal selam yang kini kami gunakan sebagai alat transportasi. Manusia tidak lagi terjebak di satu tempat dan perlahan-lahan mereka mulai membangun pertokoan dan tempat hiburan.

Aku merasa beruntung, karena katanya sebentar lagi akan dibuka kebun binatang tidak jauh dari tempat tinggalku. Para ilmuwan berhasil merekonstruksi tulang-belulang binatang yang tersisa dan mereka akan memamerkannya di sana. Tidak hanya itu, katanya akan ada teater dengan film dokumenter alam bebas, juga patung fiber glass yang menyerupai hewan-hewan itu! Aku melihat iklannya di televisi dan rasanya aku bisa meledak oleh kegembiraan. Akhirnya aku akan melihat kehidupan di hutan tropis, laut dan padang rumput Afrika zaman dulu! Setelah selama ini hanya memelototi gambarnya di internet atau buku ensiklopedia tua milik Mamaku, aku bisa melihat filmnya! Aku harus datang ke acara pembukaan kebun binatang itu. Mama sudah janji akan mengantarku ke sana. Aku tidak sabar lagi! Lusa, cepatlah datang ...


Aku enggak percaya kalau beberapa jam yang lalu aku masih bersenang-senang membayangkan serunya petualanganku nanti di kebun binatang. Saat ini aku sudah enggak bisa lagi merasakan rasa gembira dan penuh harapan yang tadi sempat aku rasakan. Sekarang yang aku rasakan hanya marah, kecewa dan sedih sekali. Barusan saja, Mama berkata kalau pembukaan kebun binatang dibatalkan sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan. Alasannya, beberapa replika binatang, tulang-tulang dan beberapa file film dokumenter hilang secara misterius. Polisi menduga hal ini ada hubungannya dengan perdagangan gelap yang belakangan ini mulai marak.

Serius ya, aku sangat, sangat marah! Para pelakunya pasti termasuk dari golongan senior kan? Mereka pasti pernah merasakan hidup di zaman penuh kemewahan sebelum bencana besar terjadi! Apa sih salahnya membiarkan orang-orang yang tidak seberuntung mereka untuk merasakan sepersekian dari apa yang pernah mereka rasakan dulu? Aaargh! Pokoknya aku kesal, kesal, kesal!

“Begitulah, Luna ...” Mama berkata dengan sedih tadi ketika melihatku marah-marah. “Rupanya sampai sekarang ini beberapa manusia memang belum bisa berubah ...”

“Apa mereka tidak puas merasakan bencana besar?!” ujarku marah. “Apa mereka mau kalau air laut di atas kita habis terkena cahaya matahari seperti ozon dulu, lalu peradaban manusia benar-benar tamat?!”

Tadinya aku menyangka Mama akan menegurku untuk tidak berbicara ngawur, tapi ternyata tidak. Mama terdiam lama, sementara aku berusaha menenangkan diri dengan menenggak sari buah sintetis yang dingin banyak-banyak. Tenggorokanku terasa sakit karena kandungan zat entah apa di dalamnya, tapi aku tetap menenggaknya untuk melampiaskan rasa marahku.

Tidak lama, aku mendengar Mama berbisik lirih. “Maafkan Mama Luna ...”

“Kenapa Mama yang minta maaf?” tanyaku. “Mama kan enggak berbuat apa-apa ...”

Tahu-tahu saja aku melihat dua butir air mata mengalir di pipi Mama. Aku kaget dan bingung melihatnya. Aku tidak tahu kenapa Mama menangis.

“Justru karena itu, Nak!” kata Mama dengan suara bergetar. “Justru karena Mama enggak berbuat apa-apa ...”

Setelah itu Mama bangkit dan masuk ke kamarnya, meninggalkan aku yang hanya bisa terpaku di ruang makan sendirian.

Tuesday, December 28, 2010

After Lunch

Keributan di sekolah mulai berangsur menyepi. Aku sudah selesai ditanyai oleh polisi dan kini tinggal menunggu Mama datang menjemputku.

Aku melirik ke kanan, beberapa orang dari berbisik-bisik sambil melirik tajam ke arahku. Aku melengos tak perduli, melirik ke kiri, ke arah kantin. Sekeliling kantin dihiasi pita, tapi bukan pita warna-warni seperti waktu ada pesta ulang tahun. Pita itu berwarna kuning bertulisan hitam: DILARANG MELINTAS, GARIS POLISI.

Keadaan kantin porak-poranda. Meja-meja terbalik, piring dan gelas bergelimpangan disana-sini. Beberapa tubuh terbungkus kain masih tergeletak, sementara lebih banyak lagi polisi yang mencegah beberapa orangtua murid yang mencoba meraih jasad anak-anak mereka sambil menjerit histeris.

Aku menoleh ke depan. Seseorang tengah menatapku. Ia mudah dikenali, karena warna lebam di pipinya begitu kontras dengan kulitnya yang putih - tidak ada anak lain di sekolah yang memiliki tanda begitu jelas di wajahnya.

Ia tersenyum, menaruh telunjuknya di bibir dan mengangguk. Aku tidak tahu apa-apa, tapi aku ikut menaruh telunjukku di bibir dan mengangguk.

Sunday, August 29, 2010

The Call

Dia baru pulang dan ketakutan ketika mendengar telepon itu berdering. Gadis yang masih mengenakan seragam putih merah itu gemetar. Kaki kurusnya seolah tidak sanggup menopang tubuhnya yang mungil. Ia meraih gagang telfon dan berbisik setenang mungkin. “Selamat siang, rumah keluarga-...”
“Joan?” suara wanita di sana memotong kata-katanya.
Joan mendeguk ludah. “Iya, Tante Erin.”
“Kenapa lama sekali sih? Sudah dari tadi Tante menelfon!” bentak Tante Erin di seberang sana.
“Maaf, Tante Erin ... tadi saya sedang membuat PR.” Jawab Joan.
“Ck! Alasan saja kamu! Mana Mbak Inem?”
“Sebentar, Tante Erin ...” Joan membawa telfon cordless itu ke ruang tengah, tempat para pembantu sedang menonton TV dengan suara pol. Jeritan seorang gadis yang sedang dijambak rambutnya sambil ditampari oleh seorang wanita berdandanan menor itu terdengar memenuhi ruangan, sementara para pembantu yang berjumlah tiga orang itu menatapi layar dengan tatapan haus.
“Mbak Inem, telfon dari Tante Erin...” kata Joan.
Mbak Inem yang berbadan subur itu melonjak bangkit dan menyambar telfon itu. Joan menundukkan kepalanya, tasnya terasa jauh lebih berat ketika ia menyeret langkahnya menjauh.
“DASAR ANAK JALANG! KELAKUANMU MACAM PELACUR!” teriak televisi itu dengan suara keras, disusul lebih banyak lagi bunyi tamparan yang menyerupai bunyi cemeti, bersahut-sahutan dengan lolongan minta ampun.
Joan merasa perutnya mulas. Ia berlari ke lantai 2, ke kamarnya, masuk ke dalam kamar mandi kamar dan mengunci pintunya.

Malamnya, Joan tidak bisa tidur. Rasa berdenyut di punggungnya akibat lima kali sabetan ikat pinggang sudah mereda sejak Mbok Isah mengolesinya dengan balsem. Kini punggungnya terasa panas terbakar, tapi lebih panas lagi perasaan di hati Joan. Ia bangkit dari tidurnya, berjalan ke arah lemari bukunya dan mengambil sesuatu dari balik kardus ensiklopedi. Sebuah boneka Barbie.
“Kamu memang wanita jalang. Kelakuanmu seperti pelacur.” Bisik Joan, mengambil sebuah cutter dan menggorok leher Barbie itu. “Mati kamu. Mati...”
“Kenapa kamu datang ke rumah? Gara-gara kamu Mami pergi dan tidak kembali. Aku mau Mamiku. Aku mau Mamiku. Pergi sana kamu ke neraka. Mati dan membusuk di sana selamanya. Kembalikan Mamiku. Mati kamu perempuan jalang. Mati.” Bisikan Joan semakin parau,rasa panas di dadanya menggelegak, ia merasakan rasa ekstasi yang begitu meluap-luap... enak sekali rasanya membaret-baret boneka seperti itu, apalagi ia membayangkan Tante Erin yang saat itu dalam genggamannya ... tergolek tanpa daya sementara ia dengan leluasa bisa menyiksanya. Gantian!
“Huhh ...” setengah jam kemudian Joan terduduk lelah. Boneka Barbie itu tetap tidak putus lehernya, tapi Joan merasa cukup puas telah menjambaki rambut pirangnya yang indah dan menyobek-nyobek baju glamornya.
Joan merasa lega ... dan ia ingin tidur lelap sampai besok pagi. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, ia hanya punya waktu 4 jam lagi sebelum ia harus bangun ... mandi ... sarapan ... lalu sekolah ... PR-nya belum dikerjakan. Pasti besok ia kena marah ...
Joan menarik nafas tajam tiba-tiba, memeluk kedua lututnya. Ia teringat sesuatu... pada sepucuk surat yang sudah seminggu ia sembunyikan di dasar tasnya. Surat panggilan.
Bu Diah yang menulisnya sendiri. Ia marah karena memergoki Joan dan beberapa orang temannya kepergok men-download sebuah video di HP milik Joan. Padahal Joan tidak menonton video itu sama sekali. Teman-temannya yang berkata hendak meminjam HP Joan yang canggih. Melihat temannya tertawa cekikikan seru sambil sesekali menjerit ‘ih jorok’ Joan penasarn dan ingin ikut melihat, tapi salah seorang dari mereka menyikutnya keras. Sakit sekali karena sikutan itu tepat mengenai antara kedua dada Joan. Rasa itu kini menetap ... setelah kejadian itu terjadi.
Bu Diah tahu-tahu saja datang, merebut HP itu dan wajahnya berubah merah-ungu. “HP SIAPA INI?!” jeritnya. Takut-takut, Joan mengangkat tangan dan satu tamparan langsung mengenai samping tubuhnya. Ia diseret ke ruang KEPSEK untuk diadili. Sekolah pun memutuskan untuk memanggil kedua orangtua Joan. Bu Diah memberikan surat panggilan yang ditulisnya dalam waktu kurang dari lima menit.
“Saya mohon, Bu ... jangan panggil orangtua saya ...” rintih Joan. Tubuhnya gemetar membayangkan hukuman macam apa yang akan ia terima. Kemarin ia mendapat sabetan rotan di punggungnya karena Tante Erin menuduhnya diam-diam berpacaran. Luka-luka bekas ‘pelajaran untuk tidak bertingkah bagai pelacur’ itu masih ada sampai sekarang. Satu-satunya hal baik yang bisa Joan rasakan dari hukuman itu adalah ia bebas ikut pelajaran olah raga sampai waktu yang tidak ditentukan.
“Tidak bisa!” Bu Diah menggeleng, wajahnya angkuh. “Orangtua kamu harus tahu soal ini. Apa yang kamu lakukan itu sangat tidak bermoral! Melanggar norma suslia! Memalukan nama sekolah! Anak sekecil kamu sudah menonton video cabul ... ini harus dihentikan sebelum merusak anak-anak yang lain!”
Sia-sia Joan memohon dan meminta. Bu Diah bersikeras tetap memanggil orangtua Joan. Seminggu penuh Joan berdoa semoga Bu Diah lupa. Bu Diah itu ‘tua bangka pikun’, seperti kata teman-temannya. Karena itu siapa tahu saja Bu Diah lupa ... tapi ternyata tidak. Malah sejak 3 hari lalu Bu Diah megancam akan menelfon orangtua Joan sendiri kalau mereka tidak juga datang.
Joan gemetar hebat. Perutnya mual. Ia lari ke kamar mandi dan muntah-muntah. Setelah yang keluar dari perutnya hanya cairan pahit,tubuhnya terasa sangat lemas. Ia jatuh duduk di lantai kamar mandi, terisak-isak. “Indigo ...” bisiknya lirih. “Indigo, tolonglah aku ...”
“Sshh ... jangan takut, manis. Aku di sini ...” suara berat itu terdengar tepat di samping Joan. Joan bisa menghirup dalam-dalam wangi cengkeh yang kuat, wangi khas Indigo yang sudah sangat ia kenal. “Hei... jangan takut. Semua akan baik-baik saja. Aku janji.”
“No, it’s fucking not!” Joan menirukan kata-kata yang pernah ia dengar dari Tante Erin. “Besok mungkin Bu Diah akan benar-benar menelfon rumah, perempuan jalang itu akan memilih waktu dimana aku masih di sekolah dan ia yakin ada orang di rumah. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mencegahnya? Hah? Enggak ada! Aku enggak tahu hukuman apa lagi yang akan aku terima ... mungkin oom-oom berbadan besar yang suka datang ke rumah membawa orang untuk dipukuli di gudang belakang rumah itu akan menyeretku ke sana, lalu aku akan dipukuli habis-habisan... dulu laki-laki berbadan tinggi itu saja jadi lemas seperti tikus mati... bagaimana aku? Satu injakan saja dari mereka dan aku akan mati! Aku akan mati kesakitan!”
“Manisku, semua itu tidak akan terjadi. Tidak kalau kamu menuruti apa yang akan aku katakan.” Joan merasakan tangan Indigo menyentuh rambutnya, membelainya penuh sayang. “Bu Diah tidak akan menelfon siapapun besok. Pak KEPSEK juga akan lebih sibuk dengan urusan lain.”
“Urusan apa?” potong Joan nyaris tak percaya.
“Sini, sini, aku bisikin ...” Indigo berbisik di telinga Joan.
Joan tertawa mengikik. “Indigo kamu pintar sekali!”
“Apapun untukmu, Joan-ku yang manis ...”

Satu hari berlalu, setiap telfon berdering Joan masih sering gemetar...
Dua hari berlalu, Joan masih agak tegang tapi sudah lebih mendingan ...
Tiga hari berlalu ...
Empat hari ...
Lima hari ...
Dan akhirnya satu minggu berlalu ... Joan mulai tidak lagi mendengar suara telfon itu. Ia sudah bisa tenang-tenang duduk di kamarnya membaca buku cerita atau menyayat-nyayat wajah boneka Barbie-nya. Tidak ada lagi yang perlu ia takuti.

(Tulisan di papan pengunguman sekolah)
Berita duka. Telah meninggal dunia Ibu Guru kita tercinta : IBU DIAH kemarin pukul 11.35 WIB. Hari ini kegiatan belajar/mengajar hanya sampai jam 10, setelah itu akan dilanjutkan dengan melayat ke rumah duka.

“Asik kan, Joan?” Indigo berkata sembari nyengir lebar ketika mereka berdua sedang menggambar bersama di lantai kamar Joan.
“Asik sekali Indigo! Asik sekali!” Joan mengangguk sambil tertawa senang. Tangannya yang menggenggam krayon semakin bersemangat mencoret-coret kertas gambarnya. Gambar stick figure, mengenakan rok yang berarti orang itu perempuan. Terbaring di lantai. Ada gelas pecah di sampingnya. Dari mulut gambar perempuan itu ada coretan-coretan warna hitam yang berbentuk seperti awan.
Kring ... kring ... kring ... terdengar suara telfon samar-samar dari lantai 1.
Joan menatap Indigo. Makhluk aneh berbadan pria tegap tapi berkepala kelinci itu balik menatapnya dengan jenaka, matanya dijulingkan dan bibirnya menggerak-gerakkan cangklong yang mengepulkan asap berbau tembakau.
Joan menirukan ekspresi mata juling Indigo, dan mereka berdua pun tertawa keras.
Sementara itu telfon masih terus berdering.
Tidak ada yang mau perduli.


This story is highly inspired by a short-movie ‘Doll’ by Mouly Surya. For anyone who is curious, the movie can be seen in youtube. Here’s the link: http://www.youtube.com/watch?v=7GqCVUZEnQs

The Choice is Yours ...

Gelap. Bau apak. Kepalaku pusing. Tiga hal itu yang mendominasi semua inderaku ketika aku mulai mengembalikan kesadaranku. Aku tersadar aku sedang berada di sebuah gudang tua. Kedua tanganku terikat di belakang punggung. Apa yang terjadi? Aku mencoba mengingat-ingat disela-sela denyutan nyeri yang terasa di kepalaku.

Ah iya ... aku mendadak terkekeh geli. Aku ingat, aku sedang melakukan ‘kop-dar’ dengan seorang temanku di dunia maya. Ia mengajakku ke sebuah kafe yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Tidak ada orangtua, jangan bilang-bilang Mama kamu ya ... itu katanya, aku ingin kita hanya berdua saja. Biar lebih romantis. Oke. Romantis. Lalu ... setelah itu aku minum ... atau makan sesuatu? Dan kemudian tahu-tahu saja aku sudah berada di sini.

“Sudah sadar, cantikku?”

Di depanku ada sepasang kaki. Aku tidak perlu mendongak untuk mengkonfirmasi siapa orang yang ada di hadapanku ini. Dia.

“Martin ...” gumamku. Kalau itu memang namamu! Aku melirik ke arah jendela, tubuhku gemetaran saat melihat langit yang gelap gulita. Sudah tengah malamkah ini? Sial. Sudah berapa lama aku pingsan?

“Loe itu cantik-cantik tapi tolol ya!” ia terkekeh. “Dan sekarang loe akan membayar mahal atas ketololan loe itu.”

“Martin, loe enggak perlu melakukan ini.” Kataku.

Jdaaakkk!! Kakinya menendang perutku.

Shit. Tendangan tadi keras juga. Punggungku ikut terasa nyeri karena tubuhku terpental dan menabrak dinding di belakangku. Martin kemudian berjongkok di depanku, tangannya menjambak rambutku dan memaksaku mendongak menatap wajahnya.

“Itu adalah apa yang akan loe terima kalau loe bicara tanpa ijin gue.” Desisnya. Matanya menyala-nyala liar. “Di sini, gue yang menentukan semuanya, termasuk apa loe masih boleh hidup atau tidak. Oke?!!”

Orang ini sakit jiwa, pikirku. Yeah, obviously ... apa sih yang aku harapkan dari seseorang yang begitu banyak mengumbar kata-kata manis penuh rayuan, mulai dari yang wajar sampai yang begitu intim, di setiap pertemuan di dunia maya? Aku ingat kata-katanya kemarin, ketika aku curhat soal Mama yang sepertinya tidak mengertiku sama sekali.

“Suatu saat nanti gue akan membawa loe pergi dari dunia loe yang menyebalkan itu. Percayalah sama gue, sayang ... gue bakal menjauhkan loe dari semua hal-hal brengsek di sekitar loe. Gue akan membawa loe ke suatu dunia yang enggak pernah loe bayangin sebelumnya, dimana hanya ada gue dan elo. Loe hanya butuh gue, sayang ... percaya sama gue, loe enggak butuh orang lain.”

“Elo itu milik gue. Gue harap loe tau itu. Gue enggak suka melihat comment orang lain di account facebook loe. Apalagi ngeliat foto loe sama orang lain. Semua itu menyakiti gue, tau! Gue cuma mau loe itu milik gue seorang. Enggak ada urusan lagi sama orang lain.”

Dan kenapa aku masih mau kop-dar dengannya ya? Hahahaha ...

“LOE DENGER APA ENGGAK?!! Jawab gue, sialan!!” Martin berteriak lagi, sekali ini tangannya bergerak menampar wajahku.

“Loe masih punya kesempatan untuk melepaskan gue. Gue enggak akan bilang ke siapa-siapa.” Kataku setelah meludahkan darah yang mengucur keluar dari mulut. “Gue janji.”

“Diam!!” tangannya bergerak lagi meninju wajahku sampai aku terpelanting ke belakang. “Diam!! Diam!! Diam!!” ia terus berteriak, menendang dan menginjak-injakku. Tubuhku tersentak beberapa kali terkena serangannya. Nafasku terkesiap beberapa kali ketika kakinya menendang perutku. Setelah ia lelah, ia berbalik dan sambil berteriak keras melemparkan sebuah kursi ke dinding.

Hening. Hanya terdengar deru nafasnya yang liar. “Gue akan membiarkan loe di sana sementara waktu dan ketika gue kembali, gue harap loe bakal bersikap lebih kooperatif ... kalau loe masih menolak ... gue bakal liat berapa lama loe bisa bertahan ... sial ... kenapa cewek-cewek brengsek itu keras kepala banget sih? Mereka kira diri mereka itu siapa? Gue tuan mereka. Mereka harus nurut sama gue.”

Aku melirik ke jendela. Perlahan-lahan awan gelap mulai bergerak ditiup angin malam. Bayangan bulan purnama mulai nampak.

“Ini udah yang ke ... ke berapa ya? Hahahahaha ... gue bahkan enggak mau ngitung berapa banyak cewek-cewek brengsek yang pernah gue ... hahahahaha ... maka, bekerjasamalah, manisku ... loe tentu enggak mau masuk daftar orang hilang untuk selamanya, kan? Maka saat gue kembali nanti, gue harap loe udah jadi budak gue yang baik ...”

Tubuhku gemetaran hebat. Aku menyeringai. “Tentu saja, sayang. Tapi sebelumnya ...”

Dalam satu sentakkan aku melepaskan pengikat yang mengikat pergelangan tanganku. Aku melompat dan berdiri tegak di hadapan Martin sambil meraung keras. Aku menyaksikan wajah Martin yang tadinya dipenuhi amarah liar, berubah pucat pasi ketika aku berubah dari sosok gadis ringkih berpakain sobek-sobek menjadi makhluk raksasa yang tingginya nyaris menyentuh langit-langit. Kesepuluh jemariku melengkung, menunjukkan cakar-cakar setajam pisau yang panjangnya nyaris mencapai 10 sentimeter. Dari mulut yang lebih tepat kusebut moncong, aku mengeluarkan raungan liar yang menggetarkan seisi ruangan.

“Aaaaaaa!!!” ia berteriak sambil melemparkan sebuah bangku, dengan mudah aku menepisnya seakan-akan bangku itu terbuat dari styrofoam. Ia mencoba memukulku dengan batangan besi. Menikamku dengan potongan kayu berujung tajam. Semuanya sia-sia. Aku melompat maju dan menepiskan tubuhnya dalam satu hantaman. Ia menabrak dinding gudang dan sebelum ia mencoba berdiri, aku mencengkeram lehernya dengan sebelah tangan dan mengangkat tubuhnya. Kakinya menendang-nendang.

“Aku tidak akan menyia-nyiakan tenagaku kalau aku jadi kamu ...” geramku sambil menunjukkan sederetan gigi-gigi tajam.

“Inilah masalahku yang sebenarnya, sayangku!” aku terbahak. “Mamaku tidak suka dengan hobiku ini... ia takut kalau aku akan membuka rahasia klan kami suatu hari nanti... hahaha ... ia tidak merasakan nikmatnya melihat bagaimana si pemburu menjadi yang diburu dalam hitungan detik. “ aku menatap tajam ke wajah Martin. Ahh ... itu dia ... lihat aku dengan matamu yang penuh ketakutan itu. Sadarlah: aku yang berkuasa di sini sekarang. Aku mengalahkanmu! Ha-ha! Beat you to it!

Aku menjatuhkan tubuhnya ke lantai. “Tadi gue sudah ngasih loe pilihan kan? Loe bisa aja melepaskan gue. Gue udah tau kalau loe yang menguasai keadaani. Cukup itu aja kan sebenarnya eh? Loe udah merasa berkuasa tadi. Tapi enggak ... loe terlalu rakus dan rakus itu adalah hal yang membahayakan diri loe sendiri.”

Aku terkekeh melihatnya merayap di lantai menjauhiku. Tangannya mencakar-cakar lantai kayu, menuju pintu. “Sekarang gue bakal ngasih loe kesempatan kedua.” Geramku. “Pilihannya ada di tangan loe. Baik sekali ya, gue ini ... enggak semua orang mau ngasih kesempatan kedua ...”

Ia membuka pintu dan berlari keluar sambil berteriak-teriak keras. “Tolong! Tolong aku!!”

Aku tertawa keras. Sepertinya ia sudah lupa alasannya memilih tempat ini untuk menculikku. Mau berteriak sekeras apapun, tidak akan ada yang mendengar. Tidak ada yang akan datang untuk menolong.

“Tu-wa-ga-pat-ma-nam-ju-pan-lan-luh!” gumamku pada diri sendiri, lalu mengambil ancang-ancang menerjang keluar dari sana. “READY OR NOT, HERE I COME!!!”

Wednesday, January 7, 2009

Secret Wish

When the morning comes
I wish to wake you up from your dream
To smile and give you hope
Help you find your strength to face today

When the day goes by
I wish to hold your hand whenever your fear comes
To wipe your tears away
Convince you that you'll never alone

When the night comes
I wish to stay beside you, to say goodnight
Let you fall asleep peacefully
Knowing that I'll still be here tomorrow

Sunday, November 2, 2008

Banshee

everytime she opens her lips to speak
everything around her shattered before her
she tries and tries to find the reason why
but only debris she can find

maybe it's a curse. maybe it's bad luck
maybe it's the unspeakable agony inside her
maybe she just can't let it go
maybe it's because the fate said so

she tries to fly towards the sky
close her eyes and pretend it's okay
she's lost her faith, so don't bother to pray
because all she wants is just fade away

Saturday, June 21, 2008

our encounter

life went by
years had passed
since i promised myself
not to think of you anymore
and let these wounds you left me heal
let the scars covered it
so i wouldnt let myself dying
in a pain i could no longer endure
such an innocence i had
when i first saw you
i didn't even know what the true meaning of 'love' is
except when i looked into your eyes
i wished that you would wait for me
until my feet grew stronger and stronger
and i could reach for you
but the time, the time just couldn't wait
and it took you away from me
left the heart that i hadn't got chance to give
all the tears fell from these two eyes
wouldn't bring me closer to you
only left me with emptiness
and even when i screamed your name
all i could hear is my own voice
before i walked away
let the footsteps echoed in the darkness
and now you came back to me
your presence before me so vividly
but once more before i could reach for you
i opened my eyes and you're gone
so this will be my last tears for you
and for the first time, i said this from the bottom of my heart
"thank you, my love ...
sleep tight in your eternity
i wish one day
i could be in your side
and that time
there will be no separation"

Thursday, January 3, 2008

whisper

close your eyes
let them all fade away
as the morning myst
but this time, no sunrise will come

Monday, November 19, 2007

mirror

where is the child i used to see
who always smiled with the morning sun
she'd gone as the time went by
now all i could see is just
nobody
or maybe somebody
that i no longer recognize
a deep fear
an unspeakable agony
through a gritted teeth
on each morning sun
before went back at night
with another fear
and the newborn agony
that another day
might kill me eventually
and i wish
i could end all of this
with the shattered glass
of the broken mirror

Tuesday, November 13, 2007

Light of The Firefly

The lights were gone
And the darkness fall
I thought this is the time
To close my eyes
And drown into my dream
But why I still wide awake
My eyes restlessly looking
For the luminescence light
Of the firefly that flew by
It's just a luminescence light
It might be go away soon
Or it might already gone
Before i could reach for it
It's just a firefly
It'll come and go easily
But why do i still
Silently wishing for it to touch my hand?

Tuesday, November 6, 2007

Tired of fake hopes

I’m tired of all the fake hopes
Why You lifted me up high, God?
If in the end
I’ll fall into the ground
Or just floating in emptiness
That will kill me eventually
Don’t You think that I have not enough time, God?
To face all of this
The time had beaten me up mercilessly
Until I hardly had had enough strength
To stand up in my own fragile feet
I wish to run
Far away from all of this
Until I found my darkness
Where I could lay down there in peace
Forever

Friday, November 2, 2007

sand clock

fight for my own sanity
without anyone to hold to
i don't know how much more
i could cope
i might be just like
the sand on the sea
waiting for the final wave
to erase me
forever

Monday, October 29, 2007

Waktu Nayla

A short story by:
Djenar Mahesa Ayu

NAYLA melirik arloji di tangan kanannya. Baru jam lima petang. Namun, langit begitu hitam. Matahari sudah lama tenggelam. Ia menjadi muram seperti cahaya bulan yang bersinar suram. Hatinya dirundung kecemasan. Apakah jam tangannya mati? Lalu jam berapa sebenarnya sekarang? Nayla memeriksa jam di mobilnya. Juga jam lima petang. Jam pada ponselnya pun menunjukkan jam lima petang. Ia memijit nomor satu nol tiga. Terdengar suara operator dari seberang, "Waktu menunjukkan pukul tujuh belas, nol menit, dan dua puluh tiga detik." Lalu manakah yang lebih benar. Penunjuk waktu atau gejala alam? Nayla menambah kecepatan laju mobilnya. Kemudi di tangannya terasa licin dan lembab akibat telapak tangannya yang mulai basah berkeringat. Ia harus menemukan seseorang untuk memberinya informasi waktu yang tepat. Tapi jika Nayla berhenti dan bertanya, berarti ia akan kehilangan waktu. Sementara masih begitu jauh jarak yang harus dilampaui untuk mencapai tujuan. Nayla sangat tidak ingin kehilangan waktu. Seperti juga ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melakukan banyak hal yang belum sempat ia kerjakan. Namun Nayla pada akhirnya menyerah. Ia menepi dekat segerombolan anak-anak muda yang sedang nongkrong di depan warung rokok dan menanyakan jam kepada mereka. Tapi seperti yang sudah Nayla ramalkan sebelumnya, jawaban dari mereka adalah sama, jam lima petang. Hanya ada sedikit perbedaan pada menit. Ada yang mengatakan jam lima lewat lima, jam lima lewat tiga, dan jam lima lewat tujuh. Nayla semakin menyesal telah membuang waktu untuk sebuah pertanyaan konyol yang sudah ia yakini jawabannya, yaitu jam lima petang. Berarti benar ia masih punya banyak waktu. Sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah menjadi abu. ***ENTAH kapan persisnya Nayla mulai tidak bersahabat dengan waktu. Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintai dalam kegelapan. Siap menghunuskan pisau ke dadanya yang berdebar. Debaran yang sudah pernah ia lupakan rasanya. Debaran yang satu tahun lalu menyapanya dan mengulurkan persahabatan abadi, hampir abadi, sampai ketika sang pembunuh tiba-tiba muncul dengan sebilah belati. Sebelumnya Nayla begitu akrab dengan waktu. Ketika cincin melingkar agung di jari manisnya. Ketika tendangan halus menghentak dinding perutnya. Menyusui. Memandikan bayi. Bercinta malam hari. Menyiapkan sarapan pagi-pagi sekali. Rekreasi. Mengantar anak ke sekolah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Memarahi pembantu. Membuka album foto yang berdebu. Mengiris wortel. Pergi ke dokter. Menelepon teman-teman. Berdoa di dalam kegelapan. Doa syukur atas kehidupan yang nyaris sempurna. Kehidupan yang selama ini ia idam-idamkan. Kala itu, waktu adalah pelengkap, sebuah sarana. Mempermudah kegiatannya sehari-hari. Menuntunnya menjadi roda kebahagiaan keluarga. Mengingatkan kapan saatnya menabur bunga di makam orang tua, kakek, nenek dan leluhur. Membeli hadiah Natal, ulang tahun dan hari kasih sayang. Mengirim pesan sms kepada si pencari nafkah supaya tidak terlambat makan. Memperkirakan lauk apa yang lebih mudah dimasak supaya tidak terlambat menjemput anak di tempat les. Bercinta berdasarkan sistem kalender, kapan sperma baik untuk dimasukkan dan kapan lebih baik dikeluarkan di luar. Waktu bukanlah sesuatu yang patut diresahkan. Karena waktu yang berjalan, hanyalah roda yang berputar tiga ribu enam ratus detik kali dua puluh empat jam. Gerakan mekanis rutinitas kehidupan. Menggelinding di atas jalan bebas hambatan. Sementara banyak yang sudah terlupakan. Suara mesin tik membahana dalam kamar yang lengang. Riuh rendah suara karyawan di kafetaria gedung perkantoran. Ngeceng di Plaza Senayan. Mengeluh bersama sahabat tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Menampar pipi laki-laki kurang ajar di diskotek. Menghapus air mata yang menitik. Melamun. Membaca stensilan. Makan nasi goreng kambing ramai-ramai dalam mobil di pinggir jalan. Masak Indomie rebus rasa kari ayam. Menatap matahari terbenam. Nonton Formula One atau Piala Dunia di Sports Bar. Menatap mata kekasih dengan berbinar-binar. Bersentuhan tangan ketika memasangkan celemek di paha kekasih dengan tangan bergetar. Menanti dering telepon dengan hati berdebar. Memilih kartu ucapan rindu yang tidak terlalu norak tanpa lebih dulu menunggu hari besar datang dengan dada berdebar. Memilih baju terbaik setiap ada janji dengan pacar dengan jantung berdebar. Menanti pujian dengan rasa berdebar. Bercinta dengan rasa, jantung, dada, hati, tangan, kaki, payudara, vagina, leher, punggung, ketiak, mata, hidung, mulut, pipi, raga, berdebar. Yang terlupakan adalah waktu yang mengalir dalam lautan debar, samudera getar, cakrawala harapan. ***MUNGKIN Nayla tidak bermaksud dengan sengaja melupakan, ia hanya tidak sadar. Ia hanya pingsan keletihan dan belum jua siuman. Ia hanya terhipnotis bandul jam yang bergerak kiri kanan dan berdetak dalam keteraturan. Membuat raganya beku. Lidahnya kelu. Hatinya membatu. Imajinasinya buntu. Kadang dalam tidur imajinasinya memberontak terbang. Mengepakkan sayap bersama dengan burung-burung dan kupu-kupu. Mengendarai ikan paus di samudera lepas. Bungy jumping. Arung jeram. Baca komik Petualangan Tintin. Minum teh di atas awan sambil diskusi tentang cerpen Anton Chekov dengan almarhum ayah dan bertanya mana yang lebih mahal antara berlian dengan Fancy Diamond kepada almarhumah ibu. Menjadi Arnold Schwarzeneger dan menggagalkan aksi teroris yang hendak menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center. Menelan biji durian. Makan rambutan. Nonton Cirque du Soleil. Nonton N'SYNC dan dipanggil ke atas panggung untuk diberi kecupan oleh Justin Timberlake. Bertinju dengan Moehammad Ali. Mengalahkan Michael Jordan. Merebut suami Victoria Beckham. Mengedit karya Gabrielle Garcia Marques. Minum sirup markisa. Baca puisi bareng Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Diculik UFO. Punya toko buku kecil di Taman Ismail Marzuki. Melaju kencang ke pusat getaran yang mendebarkan. Tapi mimpi juga terbatas waktu. Debaran itu mendadak buyar ketika terdengar suara ketukan pembantu di pintu luar kamar. Suara kokok ayam jantan. Kicau burung. Kemilau sinar matahari menerobos jendela. Dan suara alarm jam ketika jarum panjangnya menunjuk angka dua belas dan jarum pendeknya menunjuk angka enam. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang menyampaikan bahwa sudah terdeteksi sejenis kanker ganas pada ovariumnya. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang memvonis umur Nayla hanya akan bertahan maksimal satu tahun ke depan. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk sembuh. Suara alarm itu, adalah suara yang menyadarkannya kembali dari pengaruh hipnotis bandul waktu masa lalu, masa kini dan masa depan. ***MANUSIA sudah menerima hukuman mati tanpa pernah tahu kapan hukuman ini akan dilaksanakan. Karena itu Nayla tidak tahu mana yang lebih layak, merasa terancam atau bersyukur. Di satu sisi ia sudah tidak perlu lagi bertanya-tanya kapan eksekusi akan dilaksanakan. Tapi apakah setahun yang dokter maksudkan adalah 12 bulan, 52 minggu dan 365 hari dari sekarang? Bagaimana kalau satu tahun dimulai dari ketika kanker itu baru tumbuh. Atau satu minggu sebelum Nayla datang ke dokter. Atau mungkin benar-benar pada detik ketika dokter itu mengatakan satu tahun. Lalu berapa lamakah waktu sudah terbuang? Dari manakah Nayla harus mulai berhitung? Mata Nayla berkunang-kunang. Perutnya mulai terasa sakit seiring dengan bunyi dari segala bunyi jam, berdetak keras memekakkan telinganya. Satu, sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu, seratus ribu, sejuta detik mengejar dan mengepung pendengarannya ke mana pun Nayla melangkah. Memaksa mata Nayla menyaksikan lalu lalang kaki-kaki bergegas, suara klakson dari pengendara yang tak sabaran, lonceng tanda masuk sekolah, jutaan tangan karyawan memasukkan kartu ke dalam mesin absen, aksi dorong mendorong masuk ke dalam bus, tubuh-tubuh meringkuk di atas atap kereta api, semua orang tidak mau ketinggalan. Semua orang harus tepat waktu sampai di tujuan. Semua orang tidak lagi punya kesempatan, untuk sekadar berhenti memandang embun sebelum menitik ke tanah. Matahari yang bersinar tidak terlalu cerah. Awan berbentuk mutiara, semar atau gajah. Kelopak bunga mulai merekah. Kaki anjing pincang sebelah. Semut terinjak-injak hingga lebur dengan tanah. Padi menguning di sawah. Burung bercinta di atas rumah. Semua orang melangkah bagai tidak menjejak tanah. Sejak saat itu, alarm Nayla tidak pernah berhenti berbunyi. ***NAYLA ingin menunda waktu. Nayla ingin mengulur siang hingga tidak kunjung tiba malam. Nayla ingin merampas bulan supaya matahari selalu bersinar. Nayla ingin menghantamkan palu ke arah jam hingga suara alarmnya bungkam. Nayla ingin menunda kematian. Tapi Nayla selalu terlambat. Nayla selalu berada di pihak yang lemah dan kalah akan rutinitas yang tak mau menyerah. Dan ia mulai merasa kewajibannya sebagai beban. Ia mulai cemburu pada orang-orang yang masih dapat berjalan santai sambil berpegangan tangan. Atau orang-orang yang berjemur di tepi kolam renang sambil membaca koran. Ketika, ia tergesa-gesa menyiapkan air hangat, sarapan dan seragam. Berdesakan di antara hiruk pikuk suara dan keringat dalam pasar. Memastikan pendingin ruangan belum saatnya dibersihkan. Membayar iuran telepon dan listrik bulanan. Memberi makan ikan. Memberi peringatan berkali-kali pada pembantu yang tidak juga mengerjakan perintah yang sudah diinstruksikan. Mengikuti senam seks dan kebugaran. Menjadi pendengar yang baik bagi suami yang berkeluh-kesah tentang pekerjaan. Memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan dalam sebulan. Menyimpan kekecewaan ketika anak sudah tidak lagi mau mengikuti nasihat yang seharusnya diindahkan. Dan masih saja ada yang kurang. Masih ada saja yang tidak sempurna. Sarang laba-laba di atas plafon. Terlalu banyak menggunakan jasa telepon. Buah dada yang mulai mengendur. Vagina yang tidak lagi lentur. Terlalu letih hingga tidur mendengkur. Seragam sekolah yang luntur. Kurang becus mengatur keuangan. Terlalu banyak pemborosan. Kurang peka. Kurang perhatian. Kurang waktu.... Waktu... Waktu... Waktu... Waktu...................? Bahkan Nayla merasa sudah tidak punya waktu untuk sekadar memanjakan perasaan. Tidak nongkrong bersama teman-teman. Tidak belanja perhiasan. Tidak pergi ke klab malam. Tidak dalam sehari membaca buku lebih dari dua puluh halaman. Tidak lagi nonton film layar lebar di studio twenty one. Tidak lagi mengerjakan segala sesuatu yang baginya dulu merupakan kesenangan. Nayla mulai merasakan dadanya berdebar. Semangatnya bergetar. Ia ingin menampar suaminya jika membela anaknya yang kurang ajar. Ia ingin ngebut tanpa mengenakan sabuk pengaman. Ia ingin bersendawa keras-keras di depan mertua dan ipar-ipar. Ia ingin berjemur di tepi pantai dengan tubuh telanjang. Ia ingin mengatakan ia senang bercinta dengan posisi dari belakang. Ia ingin mewarnai rambutnya bak Dennis Rodman. Ia ingin berhenti minum jamu susut perut dan sari rapet. Ia ingin memelihara anjing, kucing, babi, penguin, panda dan beruang masing-masing satu pasang. Ia ingin makan soto betawi sekaligus dua mangkok besar. Ia ingin berhenti hanya makan sayur dan buah-buahan waktu malam. ***APA yang sedang mengkhianati dirinya hingga ia merasa sama sekali tidak bersalah atas debaran di dadanya yang begitu memukau? Apa yang sedang memberi pengakuan sehingga ia merasa begitu lama membuang-buang waktu? Apakah hidup diberikan supaya manusia tidak punya pilihan selain berbuat baik? Dan mengapa pertanyaan ini baru datang ketika sang algojo waktu sudah mengulurkan tangan? Mungkin hidup adalah ibarat mobil berisikan satu tanki penuh bahan bakar. Ketika sang pengendara sadar bahan bakarnya sudah mulai habis, ia baru mengambil keputusan perlu tidaknya pendingin digunakan, untuk memperpanjang perjalanan, untuk sampai ke tujuan yang diinginkan. Nayla memacu laju mobilnya semakin kencang. Memburu kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu...***